XA Update Report | PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) – 2Q26: Resiliensi Operasional Tetap Terjaga Seiring Pemulihan Kredit Bisnis, Meski Kenaikan Cost of Fund Menekan NIM
By Leonardo Lijuwardi
30-July-2026
BBCA kembali membukukan kinerja resilien pada 1H26 di tengah perlambatan aktivitas ekonomi domestik. Laba bersih BBCA masih tumbuh +1.8% YoY menjadi IDR 29.5T (1H25: IDR 29.0T | Quarterly Basis: -0.1% YoY & +1.1% QoQ; 2Q26: IDR 14.9T | 48.8% NHKSI Est for FY26) dengan Pre-Provision Operating Profit (PPOP) menjadi IDR 38.4T (+2.5% YoY; Quarterly Basis: -0.8% QoQ & -1.7% YoY; 2Q26: IDR 19.1T). Meskipun Net Interest Income (NII) mulai mengalami penurunan menjadi IDR 42.51T (-0.6% YoY) di 1H26 akibat kenaikan beban bunga sebesar +7.8% YoY menjadi IDR 7.25T, pertumbuhan Non-Interest Income yang tetap solid sebesar +11.0% YoY menjadi IDR 13.2T masih mampu menopang profitabilitas serta menjaga pertumbuhan laba tetap positif. Tekanan terhadap profitabilitas pada periode ini terutama berasal dari kenaikan Cost of Fund (CoF) sebagai dampak repricing DPK pasca kenaikan BI Rate kumulatif sebesar 75 bps, sehingga mendorong Bank Only NIM terkontraksi menjadi 5.3% pada 1H26 (1H25: 5.8% | Quarterly Basis: 1Q26: 5.4%; 2Q26: 5.3%). Meski demikian, tekanan margin bunga tersebut berhasil diimbangi oleh pertumbuhan pendapatan berbasis komisi, efisiensi operasional yang tetap terjaga, serta kualitas aset yang sehat. Hal ini tercermin dari Cost-to-Income Ratio (CIR) yang masih berada di level 29.3%, atau di bawah guidance FY26 sebesar 31–33%, menunjukkan kemampuan BBCA dalam mempertahankan profitabilitas di tengah perlambatan kelesuan aktivitas ekonomi domestik.
🔹Lending Side: 2Q26 – Pertumbuhan Kredit Bisnis Kembali Menjadi Motor Utama
• Pemulihan Pertumbuhan Kredit Segmen Business Banking. Pertumbuhan kredit mulai menunjukkan pemulihan pada 2Q26 setelah sempat melambat pada awal tahun. Total kredit yang disalurkan meningkat menjadi IDR 993.8T di 2Q26 (+8.0% YoY; Quarterly Basis: +4.2% QoQ), didorong oleh akselerasi pada segmen Business Banking. Pertumbuhan tersebut terutama berasal dari kredit Corporate yang tumbuh +13.6% YoY dan +6.1% QoQ menjadi IDR 513.4T di 2Q26, diikuti Commercial yang tumbuh +7.2% YoY dan +6.0% QoQ menjadi IDR 153.9T, mencerminkan terdapat permintaan pembiayaan dari sektor swasta di tengah kondisi ekonomi yang masih cenderung lesu dan kurang bergairah.
• Segmen Consumer Masih Stagnan. Sebaliknya, kredit Consumer masih menunjukkan pertumbuhan yang relatif terbatas dengan kontraksi -2.4% YoY dan -0.2% QoQ, sejalan dengan konsumsi domestik yang belum sepenuhnya pulih serta pendekatan BBCA yang tetap mengedepankan kualitas aset dibandingkan mengejar pertumbuhan volume.
• Outlook 2H26. Memasuki semester kedua manajemen mengisyaratkan akan lebih agresif serta memfokuskan ekspansi pada penyaluran ke sektor korporasi swasta. Eksposur BBCA terhadap BUMN juga tetap relatif konservatif, hanya sekitar 11% dari total portofolio kredit per 2Q26, dengan mayoritas pembiayaan disalurkan kepada institusi keuangan seperti BBTN dan Pegadaian. Adapun dengan pipeline pembiayaan korporasi yang mulai membaik, manajemen masih tetap mempertahankan guidance loan growth FY26 BBCA sebesar 8–10%, yang kami nilai masih cukup realistis untuk dicapai. Di sisi lain, akselerasi penyaluran kredit korporasi diharapkan dapat mendorong loan yield kembali meningkat secara bertahap, sehingga menjadi salah satu katalis bagi perbaikan NIM pada periode – periode mendatang.
🔹 Funding Side: Franchise Pendanaan Tetap Solid di Tengah Kenaikan Cost of Fund
• Jumlah DPK Stagnan Secara Kuartalan, CASA Ratio tetap. Dari sisi pendanaan fundamental likuiditas BBCA masih menunjukkan kekuatan yang baik terutama franchise CASA. Struktur Dana Pihak Ketiga (DPK) masih didominasi oleh dana murah (CASA) dengan perubahan komposisi yang relatif terbatas dibandingkan kuartal sebelumnya. Pertumbuhan Current Account dan Savings Account masih mampu mengimbangi normalisasi pada deposito berjangka, sehingga mencerminkan bahwa kualitas franchise pendanaan BBCA dengan fondasi CASA tetap terjaga di tengah persaingan penghimpunan dana yang mengetat. Adapun CASA Ratio pada 2Q26 masih berada di 84.3%
• Di sisi lain, kenaikan Cost of Fund (CoF) menjadi tantangan utama sepanjang 1H26 akibat repricing Dana Pihak Ketiga (DPK) pasca kenaikan BI Rate kumulatif 75 bps. Kenaikan biaya pendanaan tersebut, ditambah loan yield yang masih belum pulih, menjadi salah satu faktor penyebab di balik kontraksi Net Interest Margin (NIM). Meski demikian, dengan CASA Ratio yang tetap terjaga di kisaran 84.3%, kami menilai tekanan margin lebih bersifat siklis dan didorong oleh kenaikan biaya pendanaan, bukan pelemahan fundamental pendanaan BBCA.
🔹Kualitas Aset BBCA Dalam Kondisi Tetap Stabil dan Sehat
• Kualitas aset secara umum masih terjaga stabil pada 2Q26. Kualitas asset BBCA belum menunjukkan indikasi pelemahan yang berarti, dimana NPL BBCA meningkat tipis ke 1.9% di 2Q26 (2Q25: 2.2%, 1Q26: 1.8%). Adapun LAR per periode 2Q26 mengalami penurunan ke level 4.9% di 2Q26 (2Q25: 5.7% dan 1Q26: 5.1%). Coverage NPL dan LAR menurun ke level 165.5% dan 68.7% di 2Q26. %). Berbicara mengenai Cost of Credit (CoC) turun -0.2% ke level 0.4% di 2Q26, dengan basis 1H26 berada di angka 0.5% dimana angka tersebut masih berada dalam rentang guidance manajemen untuk CoC FY26 yang berada di kisaran 50 – 60 Bps.
🔹FY26 Outlook: Pemulihan pada 2H26 – Revisi Pada Laba Bersih Sejalan Tekanan Margin & Kenaikan CoF
• Memasuki semester kedua, kami memperkirakan momentum pertumbuhan kredit akan terus membaik, terutama didukung oleh meningkatnya aktivitas pembiayaan korporasi swasta yang diharapkan lebih agresif serta berimplikasi pada perbaikan dan pemulihan NIM. Manajemen mempertahankan guidance FY26 dengan target loan growth sebesar 8–10%, NIM pada kisaran 5.4–5.6%, serta Cost of Credit sebesar 50–60 bps. Sejalan dengan asumsi CoF yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, kami melakukan revisi terhadap estimasi laba FY26 untuk mencerminkan normalisasi margin bunga. Meski demikian, revisi tersebut lebih didorong oleh perubahan asumsi suku bunga dibandingkan perubahan fundamental bisnis, sehingga kami tetap mempertahankan pandangan positif terhadap prospek jangka menengah BBCA. (NHKSI Research New Net Profit Estimation for BBCA at FY26: IDR 59.7T, previous forecast: IDR 60.7T).
🔹“Buy” Recommendation dengan Target Price di IDR 8,200 (Upside Potential of +30.7%)
• NHKSI Research mempertahankan rekomendasi “Buy” namun dengan menurunkan Target Price menjadi IDR 8,200/lembar, yang mengimplikasikan Forward PBV 26F sebesar 3.1x (-1 STD Average last 3 years). Kami menilai sebagian besar sentimen negatif terkait kenaikan dan repricing CoF, kontraksi NIM, serta earning revision telah tercermin pada valuasi saham BBCA saat ini. Terlepas dari tekanan terhadap NIM serta tekanan industri, kami memandang fundamental BBCA masih menunjukkan resiliensi yang kuat melalui franchise CASA terbaik di industri. Selain itu kualitas aset yang tetap sehat, disiplin operasional yang konsisten, serta mulai pulihnya momentum pertumbuhan akselerasi Business Banking khususnya di 2H26 mendatang diharapkan bisa menunjukkan pemulihan NIM dan kinerja. Adapun yang menjadi katalis negatif antara lain kondisi makroekonomi dan politik yang tidak stabil, persaingan industri yang semakin intens serta NIM yang terkontraksi, sekaligus perlambatan pada laju pertumbuhan kredit.
Unduh dokumen lengkapnya DISINI.
NH Korindo Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk informasi lebih lanjut, anda dapat menghubuni CS kami via email CSO@nhsec.co.id

