Today’s Outlook :

 

• PASAR AS : Wall Street ditutup melemah pada Selasa setelah saham-saham terkait AI terkoreksi, dipicu kekhawatiran terhadap OpenAI. Indeks S&P 500 turun 0,5% ke 7.139,24, NASDAQ Composite melemah 0,9% ke 24.663,80, dan Dow Jones Industrial Average turun tipis 0,1% ke 49.136,15, setelah sempat jatuh lebih dalam masing-masing hingga 0,8% dan 1,5% di awal sesi.

 

 

Pelemahan ini dipicu laporan The Wall Street Journal yang menyebut OpenAI gagal mencapai target internal pengguna dan pendapatan. Perusahaan juga dilaporkan belum mencapai target 1 miliar pengguna aktif mingguan untuk ChatGPT pada akhir 2025 serta meleset dari beberapa target pendapatan bulanan tahun ini, sehingga memunculkan keraguan atas keberlanjutan belanja besar pada pusat data dan infrastruktur AI.

 

 

Tekanan pasar terkonsentrasi pada saham semikonduktor dan AI seperti Nvidia, Advanced Micro Devices, dan Broadcom. Sentimen juga terbebani oleh harga minyak yang tetap tinggi setelah melonjak akibat gangguan di Selat Hormuz. Presiden Donald Trump mengatakan Iran berada dalam “kondisi runtuh” dan ingin Selat Hormuz segera dibuka kembali.

 

 

Fokus investor kini beralih ke laporan keuangan kelompok “Magnificent Seven”—termasuk Microsoft, Meta Platforms, Amazon, Alphabet, dan Apple—yang menyumbang porsi besar kapitalisasi pasar. Selain itu, perhatian juga tertuju pada rapat kebijakan Federal Reserve, dengan pasar menunggu sinyal dari Ketua Jerome Powell terkait arah inflasi dan pertumbuhan di tengah kenaikan harga minyak dan tensi geopolitik.

 

 

 

PASAR EROPA : Bursa saham Eropa mayoritas ditutup melemah pada Selasa, seiring investor mencermati laporan bahwa Presiden Donald Trump kemungkinan tidak akan menerima proposal Iran untuk mengakhiri konflik dua bulan, serta menilai rilis kinerja emiten. Indeks pan-Eropa Stoxx Europe 600 turun 0,4%, DAX melemah 0,2%, dan CAC 40 turun 0,5%. Sementara itu, FTSE 100 menjadi pengecualian dengan naik tipis 0,1%.

 

 

 

PASAR ASIA : Saham Asia bergerak mixed pada Selasa di tengah harga minyak yang masih tinggi dan ketidakpastian geopolitik, sementara Bank of Japan menahan suku bunga sesuai ekspektasi.

 

 

BOJ mempertahankan suku bunga di 0,75% (voting 6–3) dan menegaskan kenaikan suku bunga akan dilakukan bertahap sesuai perkembangan ekonomi dan konflik Timur Tengah. Bank sentral juga melihat ekspektasi inflasi terus meningkat moderat, memperkuat peluang pengetatan lanjutan tahun ini. Indeks Nikkei 225 turun 0,7% ke 60.107,50 setelah sempat mencetak rekor, sementara TOPIX naik 0,8%.

 

 

Di Korea Selatan, KOSPI menjadi outlier dengan naik lebih dari 1% ke rekor baru. Sentimen kawasan tertekan oleh harga minyak tinggi akibat gangguan di Selat Hormuz, yang memicu kekhawatiran inflasi dan menekan minat risiko. Saham teknologi Asia juga melemah, mengikuti kehati-hatian global jelang rilis laba AS dan meningkatnya sorotan terhadap valuasi AI.

 

 

Laporan The Wall Street Journal menyebut OpenAI gagal mencapai target pengguna dan pendapatan menjelang potensi IPO, menimbulkan keraguan atas monetisasi jangka pendek sektor AI. Sementara itu, Shanghai Composite turun 0,1% dan Hang Seng Index melemah 0,7%.

 

 

 

KOMODITAS: Harga minyak turun tipis dari level tertinggi tiga minggu pada Rabu, seiring pasar mencerna keputusan Uni Emirat Arab keluar dari OPEC. Namun, ketidakpastian konflik AS–Israel dengan Iran masih membatasi penurunan, terutama karena Selat Hormuz tetap ditutup dan peluang kesepakatan damai antara Washington–Teheran masih jauh.

 

 

Kontrak Brent crude oil turun 0,6% ke USD 110,65 per barel, sementara West Texas Intermediate melemah 0,9% ke USD 99,05 per barel, setelah sebelumnya melonjak lebih dari 3% pada Selasa.

 

 

Keluarnya UEA dari OPEC—efektif Jumat—menjadi pukulan bagi kelompok produsen minyak di tengah gangguan pasokan akibat konflik Iran. Langkah ini disebut untuk fokus pada “kepentingan nasional,” namun berpotensi menimbulkan ketegangan dengan Arab Saudi sebagai pemimpin de facto OPEC. UEA diperkirakan akan meningkatkan produksi, mengingat sebelumnya menolak kuota produksi OPEC.

 

 

Meski begitu, peningkatan produksi kemungkinan baru terjadi setelah jalur pengiriman di Selat Hormuz kembali dibuka. Untuk saat ini, skenario tersebut masih jauh, karena selat tetap ditutup dan upaya negosiasi lanjutan antara AS dan Iran belum menunjukkan kemajuan.

 

 

 

INDONESIA : IHSG masih terkoreksi -0.48% di zona merah berada di angka 7072.39 benteng dimana support terakhir adalah psikologis 7000 hingga 6950. Pasar Indonesia saat ini sudah mulai kebal dengan sentimen geopolitik US-Iran, dan saat ini pemerintah sudah mulai terlihat untuk mengatasi permasalahan yang timbul akibat dampak sentimen geopolitik seperti menyusun subsidi plastik dsb. Tekanan jual dari Big Banks masih cukup berasa di Indonesia. Tekanan seller dari BREN dan DSSA masih menjadi pemberat untuk IHSG pasca eksklusi BREN dan DSSA dari LQ45 dan IDX30 serta IDX 80, dimana pasca perilisan HCL, sisi positifnya adalah penerapan adopsi yang dilakukan IDX juga mengikuti standar MSCI.

 

 

Tetap berjaga – jaga dari selling pressure big banks, walaupun secara valuasi atraktif, namun tekanan jual masih sangat besar mengiringi kontraksi makro Indonesia. Komoditas masih cukup atraktif khususnya harga komoditas nikel yang akan menguji angka psikologis USD 20,000.

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.