Today’s Outlook :
• PASAR AS : Ketiga indeks utama AS ditutup menguat, dengan kenaikan makin kencang menjelang penutupan. S&P 500 naik sekitar 1,0%, NASDAQ +1,2%, dan Dow Jones +0,6%, didorong saham teknologi. Reli ini membawa S&P 500 ke level tertinggi sejak sebelum perang Iran, sehingga seluruh kerugian selama konflik sudah tertutup.
Sentimen masih dipengaruhi konflik AS–Iran setelah pembicaraan akhir pekan gagal mencapai kesepakatan. Presiden Donald Trump mengatakan Iran ingin mencapai kesepakatan, namun AS tetap menolak jika Iran diizinkan memiliki senjata nuklir. Ini terjadi setelah AS mulai memblokade kapal dari pelabuhan Iran, yang dibalas Iran dengan ancaman terhadap pelabuhan negara Teluk.
Meski kenaikan ini menunjukkan investor mulai mengabaikan risiko geopolitik, pasar tetap waspada karena eskalasi konflik atau hasil kinerja perusahaan yang buruk bisa memicu volatilitas lagi.
• PUTARAN KEDUA NEGOSIASI GENCATAN SENJATA:
AS dan Iran sedang membahas putaran kedua pertemuan langsung untuk melanjutkan negosiasi gencatan senjata setelah sebelumnya gagal mencapai terobosan, menurut laporan Bloomberg.
Pembicaraan baru ditargetkan berlangsung sebelum batas waktu gencatan senjata dua minggu (7 April) berakhir minggu depan, dengan Islamabad sebagai salah satu lokasi yang dipertimbangkan.
Donald Trump juga menyebut Iran telah menghubungi untuk mencari kesepakatan, membuka peluang negosiasi lanjutan. Namun, di saat yang sama AS tetap melanjutkan blokade laut di sekitar Selat Hormuz untuk meningkatkan tekanan ke Iran.
• PASAR EROPA : Bursa saham Eropa melemah pada Senin, seiring investor mengevaluasi pembicaraan AS–Iran akhir pekan yang gagal menghasilkan gencatan senjata permanen, serta ancaman Presiden Donald Trump untuk segera memblokade Selat Hormuz. Indeks Stoxx 600, DAX Jerman, dan FTSE 100 Inggris masing-masing turun sekitar 0,2%, sementara CAC 40 Prancis turun 0,3%.
Bank Sentral Eropa (ECB) juga menyoroti akan memantau dampak inflasi dari konflik tersebut. Pasar kini memperkirakan sekitar tiga kali kenaikan suku bunga masing-masing 25 bps oleh ECB hingga akhir 2026, menurut estimasi LSEG.
• PASAR ASIA : Saham Asia turun pada Senin setelah pembicaraan AS–Iran tidak mencapai kesepakatan, dengan AS bersiap memblokade Selat Hormuz untuk menekan Iran. Kenaikan harga minyak juga menekan pasar, dengan Brent melonjak 8% dan kembali di atas USD 100/barel. Blokade Hormuz berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas ke Asia.
KOSPI Korea Selatan dan Nikkei 225 Jepang menjadi yang terburuk, masing-masing turun lebih dari 1%. Indeks TOPIX Jepang turun 0,3%. Saham China relatif lebih stabil, dengan CSI 300 dan Shanghai Composite bergerak datar hingga sedikit melemah. Namun Hang Seng Hong Kong turun 1,2% akibat tekanan saham teknologi.
• KOMODITAS : Harga minyak turun tajam pada awal perdagangan Asia Selasa, seiring pasar menilai risiko pasokan dan peluang pembicaraan gencatan senjata setelah AS mulai memblokade pelabuhan Iran.
Futures WTI turun 2,1% ke USD 90,98/barel. Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak tajam pada Senin, namun turun dari level tertinggi harian setelah Donald Trump menyebut 34 kapal berhasil melintasi Hormuz sebelum blokade dimulai—tertinggi sejak perang Iran dimulai akhir Februari.
Meski demikian, gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran masih bertahan hingga Selasa pagi, tanpa laporan serangan baru sejak Minggu. Sebelumnya, harga minyak sempat mencatat kenaikan bulanan tertinggi pada Maret karena konflik AS–Israel dengan Iran mengganggu sekitar 20% pasokan minyak global. Iran juga sempat menutup Selat Hormuz dan menyerang infrastruktur energi di Timur Tengah, yang memicu penghentian produksi secara luas.
• INDONESIA : IHSG ditutup menguat +0.55% di zona hijau berada di angka 7500.2 dimana berhasil break resistance selanjutnya yang berada di kisaran 7200-7300, terlepas sesi pertama mengikuti kepanikan akibat kenaikan spike harga oil dan kegagalan perundingan US-Iran di Pakistan. Saat ini jika berbicara memgenai Indonesia, posisi untuk saat ini sudah lebih aman untuk menahan portfolio dikarenakan market Indonesia yang sudah mulai kebal terhadap berita geopolitik global, yang ditunjukkan dengan membalnya IHSG dari support 6900/7200. Adapun perdagangan hari ini, IHSG berpeluang melanjutkan kenaikan dan flow nampaknya masih masuk ke saham konglomerasi, manfaatkan momentum rotasi antar konglo sebagai peluang trading.
Unduh laporan lengkapnya DISINI.

