Today’s Outlook :
• PASAR AS : S&P 500 naik 0,6% ke 6.824,63 pada Kamis. NASDAQ menguat 0,8% ke 22.822,42, dan Dow Jones naik 0,6% ke 48.185,80. Kenaikan ini didorong oleh aksi bargain hunting setelah pasar sempat tertekan cukup dalam pada Maret akibat ketidakpastian perang Iran
Dari sisi geopolitik, AS dan Iran dijadwalkan bertemu di Pakistan setelah menyepakati gencatan senjata sementara selama dua minggu. Namun situasi masih rapuh: Iran menuduh AS dan Israel melanggar kesepakatan, serta menuntut Lebanon dimasukkan dalam perjanjian damai. Israel justru menyatakan akan melakukan negosiasi terpisah dengan Beirut. Ketidakpastian juga meningkat setelah sinyal kehadiran Iran dalam perundingan menjadi tidak jelas. Isu Selat Hormuz tetap krusial, karena jalur ini sempat dibatasi oleh Iran meski sebelumnya dijanjikan tetap dibuka selama gencatan senjata.
Investor juga menanti rilis data inflasi CPI AS bulan Maret pada Jumat, yang diperkirakan menunjukkan kenaikan signifikan akibat lonjakan harga energi. Penutupan atau pembatasan Selat Hormuz memicu kenaikan harga minyak dan gas global, yang berdampak langsung ke biaya bahan bakar dan utilitas. Jika inflasi terbukti tetap tinggi (sticky), ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga tahun ini bisa semakin terbatas. Sebagai pembanding, data PCE Februari—indikator inflasi favorit The Fed—sebelumnya dirilis sesuai ekspektasi.
• PASAR EROPA : Bursa Eropa mayoritas ditutup melemah setelah reli sebelumnya. Indeks Stoxx 600 turun 0,2%, DAX Jerman turun 1,4%, CAC 40 Prancis melemah 0,2%, dan FTSE 100 Inggris turun 0,1%. Tekanan datang dari kenaikan kembali harga minyak serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang meredam optimisme investor dan memicu aksi ambil untung.
• PASAR ASIA : Pasar Asia bergerak cenderung datar hingga melemah, mencerminkan sikap hati-hati investor terhadap ketidakpastian geopolitik dan pergerakan harga energi.
Selain itu, Selat Hormuz—jalur vital bagi pasokan energi Asia— masih dalam kondisi terbatas, dengan hanya sedikit kapal yang melintas sejak gencatan senjata diumumkan. Hal ini meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan energi berkepanjangan. Meski pejabat AS dan Iran dijadwalkan bertemu, detail pembicaraan dan arah negosiasi masih belum jelas, sehingga pasar tetap defensive.
• KOMODITAS :Harga minyak naik tipis dalam perdagangan Asia, melanjutkan penguatan moderat dari sesi sebelumnya. Brent naik 0,8% ke $96,70 per barel, sementara WTI naik 0,7% ke $98,52 per barel. Meski sempat mengalami tekanan dalam sepekan, harga minyak masih didukung oleh risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Gangguan utama berasal dari terbatasnya arus kapal tanker di Selat Hormuz, yang merupakan jalur distribusi utama minyak global. Dilaporkan terjadi antrean kapal dan keterbatasan perlindungan asuransi, yang memperlambat normalisasi pengiriman. Selama kondisi ini berlanjut, volatilitas harga energi diperkirakan tetap tinggi.
FIXED INCOME NEWS
TBS Energi (TOBA) Akan Terbitkan Obligasi Rp175 Miliar
Dalam prospektus yang disampaikan, TOBA akan melakukan penawaran umum untuk Obligasi Berkelanjutan I TBS Energi Utama Tahap III Tahun 2026 dengan jumlah pokok obligasi Rp175 miliar. Emisi obligasi ini merupakan bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Berkelanjutan I TBS Energi Utama dengan target dana yang dihimpun Rp800 miliar. Sebelumnya, perseroan sudah menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I TBS Energi Utama Tahap I Tahun 2025 senilai Rp125 miliar dan Obligasi Berkelanjutan I TBS Energi Utama Tahap II Tahun 2026 senilai Rp500 miliar. (Bisnis.com)mi.co.id)
BJBR Tawarkan Obligasi Rp932,41 Miliar, Kupon hingga 6,25%
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) memulai penawaran Obligasi Keberlanjutan Berkelanjutan I Bank BJB Tahap II Tahun 2026 sebesar Rp932,41 miliar. Penerbitan ini menjadi bagian dalam Penawaran Umum Obligasi Keberlanjutan Berkelanjutan I Bank BJB dengan target dana yang dihimpun Rp2 triliun. Obligasi ini terdiri dari dua seri, yaitu Seri A sebesar Rp691,34 miliar dengan tingkat bunga tetap 6,00% per tahun berjangka waktu 3 tahun. Kemudian, Seri B sebesar Rp241,07 juta dengan tingkat bunga 6,25% per tahun berjangka waktu 5 tahun. (Wartaekonomi.co.id)
BI Borong SBN Rp 90,05 Triliun untuk Stabilkan Pasar Obligasi
Bank Indonesia (BI) telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 90,05 triliun dari pasar sekunder sepanjang 2026 sebagai bagian dari langkah stabilisasi pasar keuangan domestik. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pembelian SBN dilakukan di tengah meningkatnya volatilitas global akibat konflik geopolitik dan kenaikan suku bunga global. “Kami juga terus membeli SBN dari pasar sekunder. Tahun ini year to date-nya sudah membeli Rp 90,05 triliun,” kata Perry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/4). Perry menuturkan, pembelian SBN menjadi bagian dari rekalibrasi kebijakan moneter yang kini lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas. Ia menyebut tekanan utama berasal dari kenaikan yield US Treasury yang memicu perpindahan dana dari emerging market atau pasar negara-negara berkembang.BI menilai intervensi di pasar obligasi diperlukan untuk menjaga stabilitas imbal hasil domestik sekaligus memastikan transmisi kebijakan moneter tetap berjalan. Perry menuturkan, langkah ini juga dilakukan bersamaan dengan intervensi di pasar valas dan penyesuaian instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). (Katadata.co.id
Unduh laporan lengkapnya DISINI.

