Today’s Outlook :

 

• PASAR AS : Wall Street ditutup mayoritas melemah pada Senin, setelah upaya rebound di awal sesi gagal berlanjut. Tekanan jual tajam di pasar obligasi mulai mereda setelah komentar positif dari Ketua The Fed, Jerome Powell. Konflik Timur Tengah tetap menjadi sorotan, dengan sinyal campuran terkait negosiasi damai AS–Iran.

 

 

Indeks acuan S&P 500 turun 0,4% ke 6.343,75, berbalik dari kenaikan hingga 0,9%. NASDAQ Composite melemah 0,7% ke 20.794,64, menghapus kenaikan hingga 0,9%. Dow Jones naik tipis 0,1% ke 45.216,66 dan keluar dari zona koreksi.

 

 

Pekan lalu, indeks utama Wall Street melemah meski Presiden Donald Trump menunda hingga 6 April tenggat bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Iran justru melaporkan serangan terhadap fasilitas industri dan nuklir sipil, bertentangan dengan penundaan tersebut. Ketidakpastian ini menekan sentimen pasar, membuat Nasdaq dan Dow masuk zona koreksi (turun ≥10%), sementara S&P 500 ditutup 8,7% di bawah rekor terakhirnya.

 

 

Powell menjadi perhatian setelah diskusi di Harvard. Ia menegaskan kebijakan moneter saat ini cukup fleksibel untuk “wait and see” dampak lonjakan harga minyak terhadap inflasi dan ekonomi AS. Ia juga menyebut ekspektasi inflasi tetap terkendali dalam jangka menengah, sehingga bank sentral dapat mengabaikan guncangan pasokan energi sementara.

 

 

 

• PASAR EROPA : Saham Eropa menguat pada Senin, sementara harga minyak kembali naik seiring perang gabungan AS–Israel terhadap Iran memasuki bulan kedua. Indeks pan-Eropa Stoxx 600 naik sekitar 0,9%. Indeks CAC 40 Prancis dan DAX Jerman juga menguat sekitar 0,9%, sementara FTSE 100 Inggris naik 1,6%.

 

 

 

•  PASAR ASIA : Saham Asia melemah pada Senin, dipicu kekhawatiran eskalasi perang AS–Israel melawan Iran. Bursa Jepang memimpin penurunan setelah sinyal kenaikan suku bunga dari Bank of Japan. Indeks Nikkei 225 dan TOPIX Jepang menjadi yang terburuk di Asia, masing-masing turun lebih dari 3%. Tekanan muncul setelah Gubernur BOJ Kazuo Ueda menyatakan bank sentral mencermati pelemahan yen, yang meningkatkan biaya impor dan berpotensi mendorong kenaikan suku bunga. Ia menegaskan kebijakan akan diarahkan secara tepat dengan mempertimbangkan pergerakan mata uang dan dampaknya ke ekonomi. Meski tidak memberi sinyal langsung, pernyataan ini melanjutkan indikasi sebelumnya bahwa suku bunga bisa naik seiring inflasi dan pertumbuhan.

 

 

Saham teknologi Asia juga turun, mengikuti pelemahan di AS akibat aksi ambil untung dan kekhawatiran dampak AI. Indeks KOSPI Korea Selatan turun sekitar 3%, sementara Hang Seng Hong Kong melemah sekitar 1%, dengan sektor teknologi turut menekan Nikkei.

 

 

Produsen chip Korea Selatan, Samsung Electronics dan SK Hynix, masing-masing turun 2,5% dan 4,8%, memperpanjang pelemahan pekan lalu setelah peluncuran algoritma kompresi baru oleh Google memicu ketidakpastian terhadap permintaan memori untuk AI dalam jangka panjang.

 

 

 

KOMODITAS : Harga minyak pada Senin cenderung naik dalam perdagangan yang fluktuatif, seiring eskalasi konflik Timur Tengah yang bertentangan dengan klaim AS soal negosiasi damai dengan Iran. Kelompok Houthi dari Yaman ikut terlibat dengan menyerang Israel, memperluas potensi konflik yang kini memasuki bulan kedua. Presiden Donald Trump mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran, termasuk Pulau Kharg, jika tidak tercapai kesepakatan.

 

 

Per pukul 15:52 ET (19:52 GMT), minyak Brent kontrak Juni naik 2,8% ke USD 108,24 per barel, sementara kontrak Mei naik 1,1% ke USD 113,83 per barel. Minyak WTI naik 4,6% ke USD 104,22 per barel.

 

 

Minyak kedelai (soy oil) di Chicago sempat naik hingga 3,4%, terdorong kenaikan harga minyak mentah yang mengangkat sektor biofuel. Harga soyoil—yang digunakan untuk renewable diesel dan produk makanan seperti salad dressing—mendekati level tertinggi baru dalam tiga tahun, seiring ancaman AS terhadap aset energi Iran dan kenaikan harga minyak.

 

 

 

• INDONESIA : IHSG mengalami closing flat dimana ditutup berada di angka 7097.67, terlepas pada sesi pertama perdagangan terakhir sempat anjlok, kembali rebound ke daerah open di sesi kedua sehingga membentuk hammer candle. Saat ini jika berbicara memgenai Indonesia, posisi untuk saat ini lebih bijak untuk memanfaatkan trading scalping yang beritme lebih cepat, seiring dengan kondisi volatilitas global serta kenaikan harga minyak masih menjadi sentimen negatif penekan IHSG.

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.