Today’s Outlook:

US MARKET: Indeks Wall Street turun tajam pada Kamis di tengah kekhawatiran baru terhadap dampak inflasi dari lonjakan harga minyak, seiring perang AS–Israel dengan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda. S&P 500 turun 1,5% ke 6.672,77, NASDAQ Composite melemah 1,8% ke 22.311,98, sementara Dow Jones Industrial Average turun 1,6% ke 46.677,85.

 

 

Penurunan terjadi secara luas di pasar setelah harga minyak melonjak, dengan Brent kembali naik di atas USD 100 per barel setelah Iran memberi sinyal akan terus memblokir Selat Hormuz, jalur penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Pasar khawatir lonjakan harga minyak dapat memicu inflasi yang lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan, yang berpotensi membuat The Fed menunda pemangkasan suku bunga.

 

 

Sebelumnya, Donald Trump mendesak The Fed untuk segera memangkas suku bunga tanpa menunggu pertemuan berikutnya. Sementara itu, data PCE Price Index Januari akan dirilis pada Jumat dan menjadi indikator inflasi utama yang dipantau oleh The Fed. Meski penting, data tersebut kemungkinan belum mencerminkan inflasi dari kenaikan harga energi akibat konflik Iran. Menurut CME FedWatch, pasar memperkirakan peluang 98,3% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan minggu depan, dengan bank sentral diperkirakan tetap menahan suku bunga setidaknya hingga September.

 

 

 

COMMODITIES :

MINYAK : Harga minyak melonjak pada Kamis dan kembali menembus USD 100 per barel, setelah pemimpin baru Iran Mojtaba Khamenei memperingatkan bahwa Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan global, akan tetap ditutup di tengah serangan AS dan Israel terhadap Iran. Reuters melaporkan bahwa China menghentikan seluruh ekspor bahan bakar olahan pada Maret untuk mencegah potensi kekurangan pasokan domestik akibat konflik Iran. Langkah ini menunjukkan dampak luas dari konflik tersebut yang kini memengaruhi kawasan di luar Timur Tengah. Sementara itu, Departemen Keuangan AS mengeluarkan izin 30 hari yang memungkinkan negara-negara membeli minyak dan produk petroleum Rusia yang telah berada di laut sebelum 12 Maret, dengan izin berlaku hingga 11 April, guna menstabilkan pasar energi global.

 

 

LOGAM MULIA :Harga emas turun pada Kamis karena kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga minyak menekan sentimen. Konflik Iran juga belum menunjukkan tanda mereda, dengan Iran kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup.

 

 

 

FIXED INCOME NEWS 

 

Ungkit Minat SBN Ritel, Investor Butuh Insentif?
Di tengah tren penurunan suku bunga dan kondisi pasar modal Tanah Air yang tertekan, penjualan SBN Ritel di 2026 tampak menantang. Namun, PT Bareksa Portal Investasi sebagai salah satu mitra distribusi SBN Ritel menilai hal ini justru dapat menjadi peluang bagi pemerintah. CEO sekaligus Co-founder Bareksa Karaniya Dharmasaputra, menilai bahwa pasar SBN Tanah Air sebetulnya masih dapat diperdalam. Pasalnya, instrumen ini cenderung menawarkan return yang baik kepada masyarakat. Dharma membandingkannya dengan instrumen investasi emas sebagai safe haven yang kendati secara umum mampu bergerak menguat, tapi bukan tanpa volatilitas yang cukup tajam. Sementara dibandingkan deposito perbankan, SBN Ritel dinilai memiliki daya tawar yang lebih tinggi. (bisnis.com)

 

 

 

Green Sukuk Jadi Alternatif Pembiayaan Proyek EBT
Sukuk Hijau atau Green Sukuk berpotensi menjadi salah satu alternatif pembiayaan proyek energi baru terbarukan (EBT), seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Indonesia memiliki potensi energi surya lebih dari 3.000 gigawatt (GW) dan merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Namun, pemanfaatannya masih sangat terbatas. Di tengah kebutuhan investasi energi bersih yang terus meningkat untuk mendukung target dekarbonisasi, skema pembiayaan inovatif seperti green sukuk dinilai dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk mempercepat pengembangan energi surya di dalam negeri, khususnya dalam mewujudkan target pembangunan kapasitas 100 gigawatt (GW) energi surya. Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Deni Ridwan mengatakan pemerintah terus mengoptimalkan berbagai instrumen fiskal untuk mendorong pembangunan ekonomi hijau, termasuk melalui pengembangan instrumen pembiayaan syariah. (bisnis.com)

 

 

 

Lelang Sukuk Negara Landai, Penawaran Investor Tercatat Rp30,98 Triliun

Nilai penawaran masuk dalam lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk kian susut sepanjang tahun berjalan 2026. Teranyar, lelang sukuk pada Selasa (10/3/2026) mencatatkan penawaran senilai Rp30,98 triliun. Dalam lelang teranyar, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, menawarkan delapan seri sukuk. Diperinci, 3 seri merupakan sukuk bertenor pendek yang diwakilkan oleh Surat Perbendaharaan Negara Syariah (SPNS) dan 5 seri bertenor panjang merupakan Project Based Sukuk (PBS). Pada seri bertenor pendek atau SPNS, total penawaran yang masuk mencapai Rp11,58 triliun, dengan penawaran terbesar dihimpun oleh SPNS23112026 senilai Rp8,167 triliun. Produk ini sekaligus memiliki tenor terpanjang, yaitu selama 9 bulan, yang jatuh tempo pada 23 November 2026. Sementara dua seri lainnya, SPNS06042026 dan SPNS08092026 mencatatkan penawaran senilai masing-masing Rp1,7 triliun dan Rp1,71 triliun. Kedua seri ini memiliki maturity date pada 6 April 2026 dan 8 September 2026. (bisnis.com)

 

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.