Today’s Outlook :

 

 

• PASAR AS : Pasar saham AS kembali melemah untuk hari ketiga berturut-turut setelah risalah rapat The Fed bulan Desember menunjukkan sikap yang lebih berhati-hati terkait pemangkasan suku bunga lanjutan. Risalah tersebut menyoroti perbedaan pandangan di antara para pembuat kebijakan, di mana sebagian masih membuka ruang penurunan suku bunga jika inflasi terus melandai, sementara yang lain mendorong jeda karena khawatir tekanan inflasi bisa menjadi lebih persisten. Kekhawatiran ini memunculkan sinyal bahwa The Fed mulai condong ke arah kebijakan yang kurang dovish.

 

 

Indeks S&P 500, Nasdaq 100, dan Dow Jones ditutup turun tipis, mencerminkan sikap wait and see investor terhadap arah kebijakan moneter ke depan. Di tengah pelemahan pasar secara umum, saham Intel dan Meta justru mencatat kenaikan berkat sentimen positif dari aksi korporasi dan ekspansi agresif di sektor kecerdasan buatan, meski penguatan tersebut belum mampu mengangkat kinerja sektor teknologi secara keseluruhan.

 

 

Faktor musiman juga menjadi perhatian, dengan investor memantau peluang terjadinya Santa Claus rally yang biasanya terjadi di akhir Desember hingga awal Januari. Optimisme terhadap reli musiman sempat menopang pasar sebelumnya, namun koreksi dalam beberapa hari terakhir memunculkan keraguan atas realisasinya tahun ini. Meski demikian, secara tahunan pasar saham AS masih berada di jalur penguatan, ditopang ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter di masa depan, ketahanan pertumbuhan ekonomi, serta kinerja laba emiten yang tetap solid.

 

 

 

• PASAR EROPA : Pasar saham Eropa kembali mencetak rekor penutupan tertinggi untuk hari kedua berturut-turut, didorong oleh penguatan saham perbankan dan sektor berbasis komoditas, meski kenaikan tertahan oleh tipisnya volume perdagangan menjelang akhir tahun. Indeks STOXX 600 naik 0,6% mendekati level psikologis 600 poin, dengan sektor perbankan, dirgantara, dan pertahanan menjadi pendorong utama. Saham pertahanan tetap menunjukkan kinerja kuat sepanjang tahun ini, ditopang komitmen negara-negara Eropa untuk meningkatkan belanja militer, meskipun momentumnya sempat melambat sejak Oktober.

 

 

Sektor sumber daya dasar memimpin penguatan seiring harga emas dan perak mulai stabil setelah koreksi tajam, sementara sektor energi ikut menguat mengikuti lonjakan harga minyak pada sesi sebelumnya. Kenaikan harga minyak dipicu oleh ketegangan geopolitik terkait konflik Rusia–Ukraina serta ketidakpastian arah pembicaraan damai. Seluruh subindeks STOXX 600 bergerak di zona hijau, dengan teknologi turut mencatatkan kenaikan moderat. Bursa utama seperti London dan Jerman juga ditutup menguat, mencerminkan sentimen regional yang masih positif.

 

 

 

• PASAR ASIA :Pasar saham Asia bergerak cenderung datar pada Selasa, mengikuti pelemahan Wall Street semalam yang kembali ditekan oleh saham-saham teknologi. Aktivitas perdagangan juga relatif sepi karena likuiditas akhir tahun yang menipis dan libur Tahun Baru yang semakin dekat, membuat investor enggan mengambil posisi besar. Kontrak berjangka indeks Wall Street bergerak sideways di sesi Asia, mencerminkan sikap wait-and-see pasar global.

 

 

Di kawasan Asia, pergerakan indeks cenderung terbatas tanpa arah yang jelas. Jepang mencatat pelemahan tipis dengan Nikkei 225 dan TOPIX masing-masing turun 0,1%, sementara KOSPI Korea Selatan relatif stagnan. Singapura menjadi pengecualian dengan STI naik 0,6%, sementara India (Nifty 50) menguat tipis 0,1% dan Australia ASX 200 bergerak mendatar. Di China, Shanghai Composite nyaris tidak berubah, sedangkan Hang Seng Hong Kong naik 0,3%.

 

 

 

KOMODITAS : Harga minyak turun pada Rabu dan menutup 2025 dengan penurunan tahunan hampir 20%, mencerminkan tekanan besar dari ekspektasi kelebihan pasokan di tengah tahun yang penuh konflik geopolitik, kebijakan tarif yang lebih ketat, serta peningkatan produksi OPEC+. Brent crude mencatat penurunan sekitar 19% sepanjang tahun—penurunan tahunan terdalam sejak 2020 dan menjadi tahun ketiga berturut-turut harga melemah—sementara WTI AS turun hampir 20%.

 

 

Pada perdagangan terakhir tahun ini, Brent ditutup di USD 60,85 per barel, turun 0,8%, dan WTI berakhir di USD 57,42 per barel, turun 0,9%. Data EIA menunjukkan stok minyak mentah AS turun lebih besar dari perkiraan, namun kenaikan tajam pada persediaan bensin dan distilat menekan sentimen pasar. Produksi minyak AS juga mencapai rekor pada Oktober, menambah kekhawatiran oversupply global.

 

 

Sepanjang 2025, pasar minyak diwarnai volatilitas tinggi. Sanksi terhadap Rusia, Iran, dan Venezuela, perang Ukraina, konflik Iran–Israel, serta gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz sempat mendorong harga naik di awal tahun. Namun, reli tersebut memudar seiring OPEC+ mempercepat peningkatan produksi dan kekhawatiran bahwa tarif AS akan menekan pertumbuhan ekonomi global serta permintaan energi.

 

 

 

INDONESIA : IHSG menutup tahun 2025 di zona hijau pada penutupan perdagangan hari ini. Padahal sejumlah Bursa Saham Asia lainnya masih bervariasi (mixed). Pada Selasa (30/12/2025), IHSG ditutup di posisi 8.646,93 dengan menguat 0,03% dan 2,68 poin sekaligus membuat IHSG tahun 2025 menguat 22,13% point–to–point. Saham–saham konsumen non-primer, saham infrastruktur, dan saham keuangan mengalami penguatan tertinggi di sepanjang hari ini, menguat 3,03%, 2,04%, dan 0,97% secara masing–masing. Disusul oleh saham konsumen primer yang mencatat kenaikan 0,51% dan saham properti terapresiasi 0,36%. IHSG ditutup menguat 22,13% YoY di tahun 2025. Semua sektor ditutup menguat di tahun 2025, dengan penguatan terbesar pada saham sektor teknologi.

 

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.