Today’s Outlook :
• PASAR AS : Wall Street ditutup sedikit menguat pada Kamis, didorong harapan kesepakatan damai AS–Iran serta gencatan senjata Israel–Lebanon.
Sentimen investor membaik setelah Israel setuju gencatan senjata sementara dengan Lebanon, dan Presiden AS Donald Trump memberi sinyal pembicaraan dengan Iran bisa dilanjutkan akhir pekan ini. Gencatan senjata sekitar 10 hari ini dinilai sebagai langkah awal menuju negosiasi damai lebih luas.
Meski positif, kenaikan terbatas karena pasar masih menghadapi sinyal campuran. Harga minyak tetap tinggi akibat gangguan di Selat Hormuz. Data ekonomi menunjukkan klaim pengangguran AS turun lebih dari perkiraan, menandakan pasar tenaga kerja masih kuat dan mendukung saham.
Trump menyatakan Iran semakin dekat ke kesepakatan: pasar saham menguat, harga minyak menurun, dan peluang deal tanpa senjata nuklir terlihat semakin besar. Ia juga menegaskan Iran kini lebih terbuka dibanding dua bulan lalu.
• PASAR EROPA : Stoxx 600 mulai pulih dari sebagian besar kerugian sejak konflik Iran pecah akhir Februari. Meski begitu, kinerja saham Eropa masih tertinggal dibanding Wall Street. Salah satu alasannya, Eropa bergantung pada impor gas dari Timur Tengah yang terdampak serangan, sementara AS sebagai eksportir energi bersih dinilai lebih tahan terhadap dampak perang.
• PASAR ASIA :Indeks Nikkei 225 naik 2,6% ke level tertinggi sepanjang masa di 59.624, sementara TOPIX naik 1,3%. Kenaikan dipimpin saham teknologi dan chip, didorong optimisme terhadap permintaan AI. KOSPI Korea Selatan juga naik lebih dari 2%, mendekati rekor tertinggi tahun ini. Harapan kemajuan negosiasi damai AS–Iran turut menenangkan sentimen global, meredakan kekhawatiran soal pasokan energi dan inflasi.
• KOMODITAS : Harga minyak turun tajam di awal perdagangan Asia pada Jumat setelah AS mengumumkan gencatan senjata Israel–Lebanon, meningkatkan harapan perdamaian di Timur Tengah.
Minyak juga menuju penurunan mingguan kedua berturutturut, seiring optimisme pembicaraan damai AS–Iran, terutama setelah Donald Trump memberi sinyal kesepakatan jangka panjang semakin dekat. West Texas Intermediate (WTI) turun 1,4% ke USD 89,88 per barel dan melemah lebih dari 3% secara mingguan.
Gencatan senjata sejauh ini bertahan tanpa serangan baru hampir seminggu, dan dijadwalkan berakhir 21 April—dengan kemungkinan diperpanjang. Tekanan pada harga minyak juga datang dari ekspektasi lanjutan negosiasi AS–Iran, serta proyeksi permintaan global yang lebih lemah dari OPEC dan International Energy Agency.
FIXED INCOME NEWS
Penerbitan Obligasi Korporasi Semarak di Tengah Risiko Global
Penerbitan obligasi korporasi di Indonesia menunjukkan aktivitas yang tinggi pada 2026, dengan tercatat 48 emisi dari 32 emiten yang berhasil menghimpun dana sekitar Rp52,44 triliun. Tren ini mencerminkan kebutuhan pendanaan yang kuat dari korporasi, baik untuk refinancing maupun ekspansi bisnis, di tengah kondisi pasar yang masih dipengaruhi dinamika global. Di sisi lain, meningkatnya risiko geopolitik dan tren kenaikan yield turut mendorong biaya pendanaan menjadi lebih tinggi, sehingga investor cenderung lebih selektif dalam berinvestasi. Meskipun demikian, pasar obligasi domestik tetap menunjukkan daya tarik yang solid, didukung permintaan terhadap instrumen fixed income di tengah volatilitas global. (bisnis.com)
Penerbitan Obligasi Korporasi Naik 26,97% YoY di Kuartal I-2026
Penerbitan surat utang korporasi di Indonesia mencatat pertumbuhan signifikan pada kuartal I-2026 dengan total mencapai sekitar Rp59,4 triliun, meningkat 26,97% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp46,8 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh penerbitan obligasi dan sukuk sebesar Rp52,4 triliun (+12,96% YoY) serta lonjakan signifikan medium term notes (MTN) menjadi Rp7 triliun dari hanya Rp0,4 triliun pada tahun sebelumnya. Di sisi lain, prospek penerbitan obligasi korporasi sepanjang 2026 masih dinilai solid dengan proyeksi berada di kisaran Rp154–Rp196,86 triliun, didukung kebutuhan refinancing dari jatuh tempo obligasi yang mencapai Rp124,12 triliun. Namun, risiko geopolitik global, pelemahan rupiah, serta preferensi investor terhadap instrumen berperingkat tinggi menjadi faktor yang perlu diwaspadai ke depan. (bisnis.com)
Yield SUN Berpotensi Turun ke 6,5% pada Kuartal II-2026
Yield Surat Utang Negara (SUN) Indonesia tenor 10 tahun diperkirakan berpotensi turun ke kisaran 6,5% pada kuartal II-2026, seiring harapan meredanya tensi geopolitik global dan stabilisasi kondisi pasar keuangan. Sebelumnya, yield SUN sempat berada di kisaran 6,5%–6,7% dan mengalami tekanan akibat meningkatnya premi risiko global serta ketidakpastian eksternal. Penurunan yield ini berpotensi didorong oleh membaiknya sentimen investor, stabilitas nilai tukar, serta ekspektasi aliran dana asing kembali ke pasar domestik. Namun demikian, pergerakan yield tetap akan sangat dipengaruhi oleh dinamika global, termasuk arah suku bunga dan perkembangan geopolitik, sehingga outlook pasar obligasi cenderung membaik dengan risiko yang masih perlu diwaspadai. (bisnis.com)
Unduh laporan lengkapnya DISINI.

