Today’s Outlook :
• PASAR AS : Wall Street ditutup menguat, dengan Dow Jones naik 0,4%, S&P 500 +0,5%, dan NASDAQ +0,5%. Fokus investor tetap pada perkembangan cepat di Timur Tengah, di mana upaya diplomatik untuk menghentikan konflik mulai melemah.
Proposal yang didukung AS bersama mediator seperti Pakistan, Mesir, dan Turki mengusulkan gencatan senjata 45 hari serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, Iran menolak dan menuntut penghentian permanen konflik, jaminan tidak ada serangan lanjutan, pencabutan sanksi, kompensasi perang, serta penyelesaian regional yang lebih luas. Sementara itu, Trump meningkatkan tekanan menjelang batas waktu Selasa pukul 20.00 ET, dengan ancaman serangan besar AS ke infrastruktur Iran jika tidak dipatuhi.
Selat Hormuz—yang menangani sekitar 20% aliran minyak global—masih terganggu, mendorong harga minyak naik tajam dan menambah tekanan inflasi.
Data ISM menunjukkan PMI non-manufaktur turun ke 54,0 dari 56,1 (Februari), di bawah ekspektasi 54,8, namun masih di atas level ekspansi (50). Laporan ini mencerminkan kondisi makro yang campuran: aktivitas bisnis melambat dan tenaga kerja melemah, sementara permintaan (new orders) masih relatif kuat. Indeks harga melonjak tajam—kenaikan terbesar dalam lebih dari 13 tahun—menunjukkan tekanan inflasi yang meningkat akibat kenaikan energi dan gangguan pasokan.
• PASAR EROPA : Pasar saham Eropa tutup pada hari Senin karena libur.
• PASAR ASIA : Bursa Jepang dan Korea Selatan menguat pada Senin dalam perdagangan tipis akibat libur, seiring investor mencermati laporan bahwa AS, Iran, dan mediator lain tengah membahas potensi gencatan senjata 45 hari. Volume transaksi relatif rendah karena pasar di Hong Kong, China daratan, dan Australia tutup.
Indeks Nikkei 225 Jepang naik 1,4% dan TOPIX +0,7%, sementara KOSPI Korea Selatan menguat 1,1%. Sentimen membaik setelah laporan Axios menyebut adanya pembahasan menuju gencatan senjata yang berpotensi menjadi langkah awal menuju kesepakatan lebih luas untuk mengakhiri perang.
• KOMODITAS : Harga minyak AS naik lebih dari USD 1 pada Selasa setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran, dengan ancaman aksi lebih keras jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali.
West Texas Intermediate (WTI) naik USD 1,12 (+1,1%) ke USD 113,52 per barel pada 22:45 GMT.
Trump menyatakan akan memerintahkan serangan besar terhadap pembangkit listrik sipil dan jembatan di Iran pada Selasa malam jika Teheran tidak mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lima minggu. Pernyataan ini disampaikan menjelang tenggat Selasa pukul 20.00 EDT.
AS menuntut Iran menghentikan pengembangan senjata nuklir dan membuka kembali Strait of Hormuz. Trump juga memperingatkan bahwa seluruh negara dapat “dilumpuhkan dalam satu malam.
• INDONESIA : IHSG ditutup terkoreksi -0.53% di zona merah berada di angka 6989.43 dimana saat ini resistance selanjutnya berada di kisaran 7200-7300 dan koreksi dikarenakan rilisnya data High Shareholder Composition (HSC) pada dua dari top 10 big caps di IHSG yakni BREN dan DSSA masih menunjukkan terdapat perlawanan. Saat ini jika berbicara memgenai Indonesia, posisi untuk saat ini lebih bijak untuk memanfaatkan trading scalping yang beritme lebih cepat, seiring dengan kondisi volatilitas global serta kenaikan harga minyak masih menjadi sentimen negatif penekan IHSG terlepas harga minyak sudah mulai mengalami koreksi sejalan dengan tensi yang melemah. Pasar juga masih menunggu kejelasan mengenai kebijakan terkait free float serta overhang dari MSCI.
Unduh laporan lengkapnya DISINI.

