Today’s Outlook :
• PASAR AS : Saham AS ditutup di zona negatif pada Selasa, meski menjauh dari level terendah sesi, seiring meluasnya konflik di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi. Sektor ritel turut menjadi sorotan setelah Target membukukan kinerja yang solid. Indeks acuan S&P 500 turun 0,9% ke 6.817,13, setelah sempat anjlok hingga 2,5%. NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi melemah 1% ke 22.516,69, memangkas penurunan dari level terendah 2,7%. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,8% ke 48.501,27, setelah sebelumnya sempat turun hingga 2,6%.
Sentimen memburuk meski pasar mencatat penutupan relatif positif pada Senin, karena kekhawatiran konflik Timur Tengah yang kian meluas. Kedutaan Besar AS di Riyadh diserang drone Iran, demikian pula pusat data Amazon di Uni Emirat Arab dan Bahrain, sebagai bagian dari aksi balasan Iran ke sejumlah negara tetangga. Departemen Luar Negeri AS pada Selasa memerintahkan evakuasi personel pemerintah non-darurat dan anggota keluarga dari Bahrain, Irak, dan Yordania. AS dan Israel melancarkan kampanye udara terhadap Iran pada Sabtu, menghantam Teheran dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Sebagai respons, Iran dan proksinya Hizbullah melakukan serangan balasan, menyeret kawasan Teluk ke konflik yang kian meningkat.
Dalam penampilan publik pertamanya sejak serangan dimulai, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa “kami sudah jauh melampaui proyeksi waktu,” namun menambahkan “berapa pun waktunya, tidak masalah—apa pun yang diperlukan.” Ia juga mengklaim di media sosial bahwa AS memiliki pasokan “hampir tak terbatas” untuk beberapa jenis senjata.
Guncangan inflasi akibat konflik menjadi perhatian utama investor, terutama setelah harga minyak melonjak tajam karena kekhawatiran gangguan pasokan. Pasar khawatir kenaikan harga minyak yang berkelanjutan akan mendorong inflasi global dan memicu sikap kebijakan moneter yang lebih hawkish dari bank sentral utama.
• PASAR EROPA : Saham Eropa jatuh pada Selasa, terbebani konflik Timur Tengah yang berlanjut serta inflasi zona euro yang naik tak terduga pada Februari. Indeks DAX Jerman turun 3,6%, CAC 40 Prancis melemah 3,5%, dan FTSE 100 Inggris turun 2,8%. Indeks pan-Eropa STOXX 600 merosot 3,1%, mendekati level terendah 2026.
• PASAR ASIA : Mayoritas bursa Asia kembali melemah pada Selasa karena permusuhan antara AS, Israel, dan Iran belum menunjukkan tanda mereda. Pasar Korea Selatan memimpin penurunan dalam perdagangan susulan setelah libur panjang. Pelemahan di China relatif terbatas karena investor menunggu sinyal stimulus dari rangkaian pertemuan kebijakan ekonomi mendatang, sementara Hong Kong ditopang kenaikan saham energi dan teknologi. Saham maskapai dan pariwisata melemah di seluruh Asia, sedangkan saham energi menguat seiring kenaikan harga minyak.
Indeks KOSPI Korea Selatan menjadi yang terburuk, anjlok 4,3% setelah libur panjang, juga tertekan aksi ambil untung pascakinerja kuat Februari. Saham unggulan teknologi SK Hynix dan Samsung Electronics, serta Hyundai Motor—yang sebelumnya diuntungkan optimisme AI—turun 5%–8%.
Di Jepang, Nikkei 225 dan TOPIX masing-masing turun lebih dari 2%, dengan data domestik yang beragam menambah ketidakpastian. Belanja modal melonjak pada kuartal IV, menandakan ketahanan pertumbuhan, namun data lain menunjukkan tingkat pengangguran Januari naik tak terduga.
Di kawasan yang lebih luas, indeks CSI 300 dan Shanghai Composite China turun relatif lebih kecil, sekitar 0,2% masing-masing. Fokus pasar tertuju pada pertemuan politik tahunan “two sessions” pada 4–11 Maret.
• KOMODITAS: Harga minyak ditutup naik 4,7% pada Selasa—tertinggi sejak Januari 2025—seiring intensifikasi konflik AS–Israel dengan Iran yang mengganggu pengiriman energi dari Timur Tengah dan memicu kekhawatiran konflik berkepanjangan. Brent naik USD 3,66 (4,7%) ke USD 81,40 per barel, tertinggi sejak Januari 2025. WTI AS naik USD 3,33 (4,7%) ke USD 74,56, tertinggi sejak Juni.
Pasukan Israel dan AS menggempur target di Iran pada Selasa, memicu serangan balasan Iran di kawasan Teluk dan meluas hingga Lebanon. Irak—produsen minyak terbesar kedua OPEC setelah Arab Saudi—memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari, dengan potensi pemangkasan lebih besar karena keterbatasan kapasitas penyimpanan. Iran juga menyerang infrastruktur energi regional dan kapal tanker di Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia. Banyak tanker dan kapal kontainer menghindari selat tersebut setelah asuransi membatalkan perlindungan dan tarif pengapalan melonjak, diperparah laporan media Iran bahwa kapal apa pun yang melintas akan ditembaki.
• INDONESIA : IHSG ditutup kembali terkoreksi dibawah level menjadi 7939.77, dimana pasar mencerna aksi lanjutan balasan yang dilakukan oleh Iran. Seiring agresi tersebut, lakukan hedging dan tetap berpegang pada saham sektor komoditas yang akan menjadi tema trading sepanjang tahun ini seiring dengan kenaikan komoditas minyak, emas, nikel. Pasca minyak dan gas berhasil breakout, harga batubara juga sudah mulai breakout dimana nampaknya hari ini bisa memberikan peluang untuk kenaikan saham batubara. Jangan lupakan berjaga-jaga selalu dengan stoploss dan trailing stop terdekat di tengah volatilitas ini.
Unduh Laporan lengkapnya DISINI.

