Today’s Outlook :
• PASAR AS : S&P 500 turun 2,1%, NASDAQ anjlok 2,4%, dan Dow Jones melemah 1,8%. Wall Street melemah tajam pada Selasa usai libur panjang, dipicu lonjakan ketegangan geopolitik terkait Greenland.
Tekanan pasar datang dari ancaman Trump yang akan mengenakan tarif hingga 25% ke delapan negara Eropa sampai tercapai kesepakatan agar AS dapat mengakuisisi Greenland—ancaman yang ditolak keras oleh Eropa. Ketidakpastian meningkat karena Trump tidak menutup opsi aksi militer, di tengah sensitivitas pasar pasca intervensi AS di Venezuela awal tahun.
Prancis dan Jerman mendorong UE menyiapkan langkah balasan ekonomi, termasuk pembatasan investasi dan sektor keuangan. Di sisi lain, pasar juga menanti putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas tarif impor Trump, dengan ekspektasi putusan bisa merugikan kebijakan tarif tersebut.
Dari korporasi, saham Netflix turun 4,8% meski laba kuartal IV melampaui ekspektasi, karena panduan kinerja kuartal I dan 2026 mengecewakan serta melemahnya permintaan konten non-eksklusif.
Selain itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut Trump bisa menunjuk Ketua The Fed berikutnya secepat minggu depan, menambah ketidakpastian kebijakan ke depan.
• PASAR EROPA : Saham Eropa melemah pada Selasa, melanjutkan penurunan tajam sesi sebelumnya di tengah kekhawatiran dampak ekonomi dari ancaman tarif perdagangan baru. DAX Jerman turun 1,1%, CAC 40 Prancis melemah 0,6%, dan FTSE 100 Inggris turun 0,7%.
Tekanan pasar dipicu ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menaikkan tarif terhadap sejumlah negara Eropa kecuali AS diizinkan membeli Greenland. Sentimen negatif diperkirakan berlanjut seiring dibukanya kembali pasar AS setelah libur.
Trump mengatakan isu tersebut akan dibahas dalam World Economic Forum di Davos, namun tetap menegaskan tuntutannya atas Greenland. Para pemimpin Eropa menolak keras sikap tersebut dan mulai menyiapkan langkah balasan, dengan keputusan akan dibahas dalam rapat darurat Uni Eropa pada Kamis, meningkatkan risiko sengketa dagang transatlantik.
• PASAR ASIA : Sebagian besar saham Asia melemah pada Selasa, memperpanjang penurunan tajam dari sesi sebelumnya seiring investor tetap waspada terhadap tuntutan Presiden AS Donald Trump terkait Greenland.
Saham Jepang turut tertekan meski Perdana Menteri Sanae Takaichi mengumumkan rencana membubarkan parlemen pada Jumat dan menggelar pemilu cepat pada awal Februari, langkah yang berpotensi membuka ruang stimulus fiskal tambahan. Takaichi menyatakan pemilu pada 8 Februari akan difokuskan untuk mencari dukungan atas stimulus fiskal, pemangkasan pajak, dan peningkatan belanja pertahanan.
Namun, kekhawatiran muncul mengenai sumber pendanaan kebijakan tersebut, memicu aksi jual tajam obligasi pemerintah Jepang. Imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun menembus 4%, level tertinggi dalam 27 tahun.
Sementara itu, pasar China daratan hanya mendapat dukungan terbatas dari data PDB yang menunjukkan ekonomi China mencapai target pertumbuhan 5% pada 2025, meski pertumbuhan kuartal IV melambat dibanding kuartal sebelumnya.
• KOMODITAS : Harga minyak mentah WTI turun pada Rabu, tertekan oleh ketegangan geopolitik dan perkiraan kenaikan stok minyak AS, meski ada penghentian sementara produksi di dua ladang besar Kazakhstan.
WTI di bulan Maret turun 79 sen (-1,31%) ke USD 59,57 per barel pada pukul 00.08 GMT, setelah naik 1,51% di sesi sebelumnya. Sementara itu, Brent kontrak Maret belum diperdagangkan hari Rabu, namun pada sesi sebelumnya naik 98 sen (1,53%) ke USD 64,92.
Kenaikan sebelumnya didorong oleh penghentian sementara produksi di ladang Tengiz dan Korolev di Kazakhstan (anggota OPEC+) serta data ekonomi China yang kuat.
• INDONESIA : IHSG ditutup flat sebesar +0.01% menjadi 9134.7. Pergerakan IHSG cukup sangat volatil dikarenakan kekhawatiran mengenai sentimen risiko outflow akibat kebijakan baru MSCI mengenai float saham. Tetap berhati-hati selalu di tengah volatilitas IHSG saat ini, sembari indikator RSI yang mengindikasikan oversold dan adanya negative divergence yang menunjukkan peluang untuk koreksi pada indeks. Terlepas koreksi pada indeks berpeluang terjadi, momentum pada IHSG masih cukup kuat untuk melakukan trading berbasis narasi.
Unduh laporan lengkapnya DISINI.

