Today’s Outlook :

 

 

• PASAR AS : Pada penutupan perdagangan NYSE, Dow Jones turun 398 poin (-0,8%), S&P 500 melemah 0,2%, dan NASDAQ Composite turun 0,1%. Pasar saham AS terkoreksi pada Selasa seiring investor mencermati rilis data inflasi konsumen AS serta laporan kinerja kuartalan sektor perbankan.

 

 

Inflasi AS bulan Desember tercatat naik 2,7% secara tahunan dan 0,3% secara bulanan, sama seperti November dan sesuai ekspektasi pasar. Sementara itu, inflasi inti berada di level 2,6% (yoy) dan 0,2% (mom), sedikit lebih rendah dari perkiraan.

 

 

Data ini menegaskan inflasi masih relatif terkendali, sementara ketahanan pasar tenaga kerja tetap menjadi faktor penting bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga ke depan.

 

 

 

• PASAR EROPA : Saham Eropa bergerak cenderung menguat terbatas pada Selasa, di tengah sikap hati-hati investor terhadap perkembangan geopolitik, rilis data inflasi penting, serta dimulainya musim laporan keuangan kuartalan. Indeks DAX Jerman dan FTSE 100 Inggris ditutup stagnan, sementara CAC 40 Prancis turun tipis 0,1%.

 

 

 

• PASAR ASIA : Saham Asia mayoritas menguat pada Selasa, didorong reli saham teknologi seiring berlanjutnya optimisme terhadap sektor kecerdasan buatan (AI). Indeks Nikkei 225 Jepang mencetak rekor tertinggi baru, ditopang aksi catch-up trade usai libur panjang serta spekulasi bahwa Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi akan menggelar pemilu lebih awal untuk memperkuat mayoritas pemerintah dan membuka ruang stimulus fiskal tambahan.

 

 

Nikkei 225 melonjak lebih dari 3% ke level rekor 53.997,5, sementara indeks TOPIX naik 2,3% dan juga mencetak rekor. Kenaikan ini dipicu ekspektasi pemilu cepat yang memungkinkan Takaichi memanfaatkan tingkat popularitasnya untuk memperkuat koalisi, sekaligus memberi fleksibilitas lebih besar dalam mendorong kebijakan dan belanja fiskal. Optimisme stimulus membuat investor mengesampingkan ketegangan diplomatik Jepang–China terkait isu Taiwan.

 

 

Di sisi lain, minat investor juga meningkat terhadap saham teknologi Hong Kong dan China, menyusul serangkaian IPO positif perusahaan AI China yang memperkuat sentimen terhadap prospek sektor tersebut.

 

 

 

• KOMODITAS : Harga minyak kembali naik pada Selasa, mencatat kenaikan untuk sesi keempat berturut-turut seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat gelombang besar demonstrasi anti-pemerintah di Iran. Pada pukul 13.05 GMT, Brent berjangka Maret naik 2% ke USD 65,15 per barel, sementara WTI menguat 2,4% ke USD 60,75 per barel. Pada sesi sebelumnya, Brent sempat menyentuh level tertinggi tujuh pekan, sedangkan WTI mencapai level tertinggi satu bulan.

 

 

Iran, sebagai salah satu produsen utama OPEC, tengah menghadapi aksi protes terbesar dalam beberapa tahun terakhir yang diwarnai kekerasan dan jatuhnya banyak korban akibat penindakan aparat keamanan. Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan aksi militer jika otoritas Iran terus menggunakan kekuatan mematikan terhadap demonstran. Trump juga mengumumkan rencana penerapan tarif 25% terhadap negara mana pun yang “berbisnis” dengan Iran, sebagai upaya menekan ekonomi Teheran.

 

 

Analis ING menilai China masih menjadi pembeli utama minyak Iran, sehingga efektivitas ancaman tarif sekunder AS untuk menjauhkan China dari minyak Iran masih perlu dicermati. Reuters melaporkan Trump dijadwalkan bertemu dengan para penasihat seniornya pada Selasa untuk membahas opsi kebijakan terkait Iran.

 

 

 

• INDONESIA : IHSG ditutup rebound di sesi 2 dimana baik  sebesar +0.72% menjadi 8948.3 dimana masih belum berhasil memecah resistance angka psikologis 9000, sekaligus membuat 8700-8800 sebagai pijakan support jangka pendek. Likuiditas pasar cukup terkonsentrasi di saham BUMI, dimana ketika beberapa saham konglomerasi turun, khususnya BUMI langsung menyeret dan memancing respons penurunan saham konglomerasi lain. Jika saham konglomerasi dan saham uptrend yang anda pegang tetap kuat di atas MA20, jadikan angka tersebut sebagai pedoman trailing stop anda.

 

 

Kenaikan saham di IHSG didukung dengan banyak sekali katalis narasi yang cukup atraktif di 2026 seperti kenaikan modal untuk Bank KBMI 1 (BNBA dsb.), kenaikan modal inti asuransi serta saham – saham berbasis minyak serta tanker perkapalan LNG. Dari segi konglomerasi, saham – saham konglomerasi yang belum ada flow kenaikan sepanjang 2025 seperti katalis musiman Panin Group nampaknya mulai atrakif, mengingat konglomerasi lain yang sudah banyak mengalami rally. Jika anda memiliki portfolio nikel, KBMI 1 dan asuransi umum dan portofolio berbasi narasi tersebut tetap selalu berjaga-jaga dengan trailing stop untuk portfolio anda dikarenakan volatilitas yang tinggi.

 

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.