Today’s Outlook :
• PASAR AS : S&P 500 dan Dow Jones ditutup di level tertinggi sepanjang masa pada Senin, didorong kenaikan saham teknologi yang memicu pemulihan pasar secara luas, meski ada kekhawatiran soal independensi The Fed setelah pemerintahan Presiden Trump kembali menyerang Ketua The Fed Jerome Powell. Dow Jones naik 86 poin (+0,2%) ke rekor 49.590,20, S&P 500 menguat 0,2% ke 6.976,71, sementara Nasdaq Composite naik 0,3%. Investor cenderung wait and see menjelang rilis data inflasi AS (CPI) Desember yang akan diumumkan Selasa.
Isu The Fed dan suku bunga menjadi sorotan utama pekan ini setelah Powell mengungkap adanya ancaman tindakan hukum dari pemerintahan Trump, yang meski dikaitkan dengan proyek renovasi The Fed, dinilai bermuatan politik karena Powell enggan memangkas suku bunga sedalam yang diinginkan Trump. Kekhawatiran terhadap independensi The Fed sempat menekan pasar.
Di sisi lain, Trump menyatakan pemerintahannya tengah berdiskusi dengan Microsoft dan perusahaan teknologi besar lainnya agar kenaikan biaya listrik akibat operasional data center tidak dibebankan ke rumah tangga. Namun, potensi perubahan regulasi ini bisa meningkatkan biaya operasional bagi perusahaan teknologi dan pusat data AI.
Fokus pasar kini tertuju pada data inflasi CPI Desember yang dinilai krusial untuk memberi arah inflasi AS di 2025 dan prospek kebijakan suku bunga The Fed, bersama dengan kondisi pasar tenaga kerja yang sejauh ini masih relatif solid.
• PASAR EROPA : Saham Eropa mengawali pekan baru pada Senin dengan pergerakan yang beragam, seiring investor mencermati meningkatnya ketegangan di Iran serta kembali munculnya tekanan politik terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell. Indeks DAX Jerman ditutup naik 0,5%, sementara CAC 40 Prancis bergerak datar dan FTSE 100 Inggris menguat 0,1%.
Fokus investor Eropa pekan ini tertuju pada kerusuhan sipil di Iran. Menurut kelompok hak asasi manusia, lebih dari 500 orang tewas setelah aksi protes meluas direspons dengan tindakan keras oleh otoritas Iran.
• PASAR ASIA : Mayoritas saham Asia menguat pada Senin, dipimpin oleh saham-saham AI China seiring meningkatnya optimisme terhadap prospek sektor tersebut. Namun, penguatan yang lebih besar tertahan oleh meningkatnya risiko geopolitik dan makroekonomi global.
Berbagai ketegangan geopolitik yang masih berlangsung—mulai dari aksi protes di Iran, operasi militer AS di Venezuela, ketegangan diplomatik China–Jepang, hingga dorongan Gedung Putih untuk mengakuisisi Greenland—turut menahan sentimen pasar.
Di kawasan Asia, indeks KOSPI Korea Selatan menjadi yang berkinerja terbaik dengan kenaikan 1,2%, ditopang oleh penguatan saham teknologi dan semikonduktor. Indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,8% berkat reli saham teknologi, sementara indeks China daratan, Shanghai Shenzhen CSI 300 dan Shanghai Composite, masing-masing menguat sekitar 0,5% hingga 1%.
• KOMODITAS : Harga minyak naik dan ditutup di level tertinggi tujuh pekan pada Senin, didorong kekhawatiran turunnya ekspor Iran akibat penindakan keras terhadap demonstrasi anti-pemerintah. Kenaikan tertahan oleh potensi tambahan pasokan dari Venezuela. Brent naik 0,8% ke USD 63,87 per barel, sementara WTI menguat 0,6% ke USD 59,50 per barel.
Iran menyatakan tetap membuka komunikasi dengan AS di tengah tekanan internasional dan ancaman respons dari Presiden Donald Trump. Data Kpler dan Vortexa menunjukkan Iran saat ini menyimpan minyak di laut pada level rekor, setara sekitar 50 hari produksi, seiring turunnya pembelian China dan upaya Teheran menghindari risiko serangan AS.
• INDONESIA : IHSG ditutup terkoreksi sebesar -0.58% menjadi 8884.72 dimana masih belum berhasil memecah resistance angka psikologis 9000. Likuiditas pasar cukup terkonsentrasi di saham BUMI, dimana ketika beberapa saham konglomerasi turun, khususnya BUMI langsung menyeret dan memancing respons penurunan saham konglomerasi lain. Jika saham konglomerasi dan saham uptrend yang anda pegang tetap kuat di atas MA20, jadikan angka tersebut sebagai pedoman trailing stop anda.
Kenaikan saham di IHSG didukung dengan banyak sekali katalis narasi yang cukup atraktif di 2026 seperti kenaikan modal untuk Bank KBMI 1 (BNBA dsb.), kenaikan modal inti asuransi serta saham – saham berbasis minyak serta tanker perkapalan LNG. Dari segi konglomerasi, saham – saham konglomerasi yang belum ada flow kenaikan sepanjang 2025 seperti katalis musiman Panin Group nampaknya mulai atrakif, mengingat konglomerasi lain yang sudah banyak mengalami rally. Jika anda memiliki portfolio nikel, KBMI 1 dan asuransi umum dan portofolio berbasi narasi tersebut tetap selalu berjaga-jaga dengan trailing stop untuk portfolio anda dikarenakan volatilitas yang tinggi.
Unduh laporan lengkapnya DISINI.

