Today’s Outlook :

 

• PASAR AS : Indeks Wall Street ditutup campuran pada Jumat: S&P 500 dan Dow Jones melemah, sementara NASDAQ naik didorong saham chip. Kenaikan ini didukung pendapatan Maret yang kuat dari TSMC, yang akan merilis laporan kuartal penuh minggu ini.

 

 

Data CPI Maret menunjukkan inflasi naik tajam, meski sedikit di bawah ekspektasi, dengan energi sebagai pendorong utama. Hal ini memicu kekhawatiran inflasi yang tetap tinggi akan menekan pertumbuhan ekonomi dan membuat The Fed menahan suku bunga tahun ini.

 

 

Presiden Donald Trump memerintahkan blokade Selat Hormuz mulai Senin pagi, setelah AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan dalam pembicaraan gencatan senjata akhir pekan lalu. Blokade akan menargetkan seluruh lalu lintas laut ke dan dari Iran, mulai pukul 10:00 ET (14:00 GMT), menurut Komando Pusat AS.

 

 

Pejabat AS dan Iran sempat bertemu di Pakistan, namun gagal mencapai kesepakatan. Isu utama meliputi aktivitas nuklir Iran dan pembukaan penuh Selat Hormuz tanpa biaya. Gagalnya negosiasi serta rencana blokade menunjukkan kecilnya peluang de-eskalasi dalam waktu dekat, serta potensi gangguan lanjutan pada pasar minyak dan gas global.

 

 

 

• PASAR EROPA : Bursa saham Eropa mayoritas menguat pada Jumat setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberi sinyal ingin membuka pembicaraan dengan Lebanon.

 

 

Sentimen juga terdorong oleh laporan Bloomberg yang menyebut negosiator utama Ukraina melihat kemajuan menuju potensi kesepakatan damai dengan Rusia. Saham konstruksi Eropa naik karena harapan rekonstruksi Ukraina, dengan Buzzi, Holcim, dan Heidelberg Materials menguat. Sebaliknya, saham pertahanan dan kedirgantaraan yang sebelumnya diuntungkan oleh prospek peningkatan belanja militer justru turun—Rheinmetall dan Leonardo masing-masing melemah lebih dari 5%.

 

 

Indeks Stoxx 600 naik 0,4%, DAX Jerman +0,2%, FTSE 100 Inggris stagnan, dan CAC 40 Prancis naik 0,2%.

 

 

 

•  PASAR ASIA : Mayoritas saham Asia naik pada Jumat didorong optimisme hati-hati jelang pembicaraan gencatan senjata AS–Iran, sekaligus mengarah ke kinerja mingguan yang kuat.

 

 

Saham China termasuk yang menguat meski data inflasi Maret menunjukkan gambaran campuran. Indeks KOSPI Korea Selatan jadi yang terbaik, naik 1,9% didorong saham teknologi, meski pasar relatif santai terhadap keputusan bank sentral menahan suku bunga di 2,50%. Secara mingguan, KOSPI melesat hampir 10%, sebagian karena aksi beli murah setelah penurunan tajam di Maret.

 

 

Nikkei 225 Jepang naik 1,5% dan menuju kenaikan mingguan sekitar 7%. Sementara TOPIX stagnan setelah inflasi produsen Jepang naik lebih tinggi dari perkiraan, memicu kekhawatiran kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan.

 

 

 

KOMODITAS : Harga minyak melonjak tajam di awal perdagangan Asia Senin, kembali menembus USD 100/barel* setelah Presiden Donald Trump mengumumkan blokade Selat Hormuz pasca gagalnya negosiasi dengan Iran.

 

 

Futures Brent naik 8% ke USD 102,93/barel. Militer AS akan mulai memblokade seluruh lalu lintas laut ke dan dari pelabuhan Iran mulai pukul 10:00 ET (14:00 GMT).

 

 

Kegagalan negosiasi di Pakistan dipicu perbedaan soal program nuklir Iran, pembukaan Selat Hormuz, dan dukungan Iran terhadap kelompok proksi seperti Hezbollah. Wakil Presiden JD Vance meninggalkan pembicaraan lebih awal setelah 21 jam tanpa hasil.

 

 

Ketegangan AS–Iran dan blokade penuh Hormuz berpotensi mengganggu pasokan minyak global secara berkelanjutan. Selat ini menyuplai sekitar 20% minyak dunia, dan sebelumnya sudah sempat terganggu sejak konflik akhir Februari.

 

 

Iran menyatakan tidak berencana melanjutkan negosiasi nuklir dengan AS, meski laporan menyebut negara-negara Timur Tengah masih mencoba memediasi pembicaraan lanjutan.

 

 

 

• INDONESIA : IHSG ditutup menguat +2.07% di zona hijau berada di angka 7458.5 dimana berhasil break resistance selanjutnya yang berada di kisaran 7200-7300. Selama belum break 7300 dengan solid, volatilitas – konsolidasi masih terus terjadi di rentang 6900-7300. Saat ini jika berbicara memgenai Indonesia, posisi untuk saat ini lebih bijak untuk memanfaatkan trading scalping yang beritme lebih cepat, seiring dengan kondisi volatilitas global dan ekspektasikan pasar mengalami shock di hari ini seraya dengan akhir minggu perdagangan serta memitigasi risiko TACO.

 

 

Adapun perdagangan hari ini, IHSG berpeluang retest dan menguji area 7200-7300 yang cukup kritikal untuk IHSG, dimana sentimen negatif gagalnya perundingan US-Iran di Pakistan memberikan efek panic selling bagi pelaku pasar. Tetap berhati-hati di tengah volatilitas ini.”

 

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.