Today’s Outlook :

 

• PASAR AS : Saham-saham di Wall Street berhasil berbalik menguat pada Senin setelah sebelumnya sempat tertekan tajam. Rebound pada satu jam terakhir terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa perang AS–Israel melawan Iran kemungkinan mendekati akhir dan sudah “jauh melampaui” perkiraan awal durasi empat hingga lima minggu.

 

 

Di awal sesi, harga minyak sempat melonjak ke level tertinggi sejak pertengahan 2022 akibat gangguan pengiriman yang mempersempit pasokan seiring perang dengan Iran memasuki hari kesepuluh. Lonjakan harga energi sempat memicu kekhawatiran inflasi, namun harga minyak kemudian turun setelah muncul laporan bahwa pemerintah AS mempertimbangkan pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia. Pergerakan pasar juga tetap volatil karena investor terus merespons perkembangan konflik di Timur Tengah.

 

 

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,50% ke 47.740,80, S&P 500 menguat 0,83% ke 6.795,99, dan Nasdaq Composite melonjak 1,38% ke 22.695,95. Sebagian besar sektor di S&P 500 ditutup menguat, dipimpin saham teknologi, sementara sektor keuangan dan energi melemah.

 

 

 

• PASAR EROPA : Saham Eropa ditutup melemah tajam pada Senin di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah, meskipun penurunan sempat berkurang setelah harga minyak turun dari level tertingginya. Indeks DAX Jerman turun 0,8%, CAC 40 Prancis melemah 1%, dan FTSE 100 Inggris turun 0,3%.

 

 

Dari sisi ekonomi, pesanan pabrik Jerman anjlok 11,1% pada Januari—lebih buruk dari perkiraan—sementara produksi industri turun 0,5%. Kekhawatiran terhadap ekonomi global juga meningkat setelah data menunjukkan ekonomi AS secara tak terduga kehilangan lapangan kerja pada Februari dan tingkat pengangguran naik ke 4,4%, yang berpotensi menyulitkan kebijakan Federal Reserve di tengah lonjakan harga energi.

 

 

 

•  PASAR ASIA : Saham Asia anjlok pada Senin setelah lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran investor terhadap kembalinya tekanan inflasi global. Pasar saham di kawasan dibuka melemah tajam, dengan Nikkei 225 Jepang dan KOSPI Korea Selatan memimpin penurunan setelah harga minyak menembus USD100 per barel.

 

 

 

Nikkei 225 merosot lebih dari 7% ke level terendah dalam dua bulan, sementara KOSPI sempat turun lebih dari 8% hingga memicu circuit breaker dan penghentian perdagangan selama 20 menit. Lonjakan harga minyak—yang sempat mencapai sekitar USD111 per barel—meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi global bisa kembali meningkat di saat banyak bank sentral mulai mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter.

 

 

 

Indeks Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing turun sekitar 2%, sementara Hang Seng Index melemah 3,5%. Di kawasan lain, S&P/ASX 200 Australia turun 4%, Straits Times Index Singapura melemah 3%, dan kontrak berjangka Nifty 50 India turun lebih dari 2% di tengah volatilitas pasar yang meningkat.

 

 

 

KOMODITAS : Eskalasi konflik antara aliansi AS–Israel dan Iran mulai mengganggu pasokan energi global, mendorong harga minyak naik hampir 30% menjadi sekitar USD119 per barel pada 9 Maret—level tertinggi sejak 2022. Lalu lintas kapal di kawasan Teluk sebagian besar terhenti akibat ancaman keamanan, memaksa sejumlah produsen minyak Timur Tengah memangkas produksi karena jalur ekspor terblokir dan kapasitas penyimpanan semakin terbatas.

 

 

Saudi Aramco dilaporkan mulai mengurangi produksi di dua ladang minyaknya, mengikuti langkah serupa dari Irak, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Di Irak, produksi dari ladang minyak utama di wilayah selatan dipangkas sekitar 70% menjadi sekitar 1,3 juta barel per hari, sementara Bahrain menyatakan force majeure setelah serangan terhadap kompleks kilangnya. Para analis memperkirakan konflik ini telah mengurangi sekitar 200 juta barel pasokan minyak global dalam sepuluh hari terakhir.

 

 

 

• INDONESIA : IHSG anjlok pada perdagangan hari Senin (9/3), terpantai sempat menyentuh level terendah minus -5,2% ke level 7.156, namun memangkas koreksi menjadi -3,27% atau anjlok 248 poin ke level 7.337,37. Sebanyak 708 saham turun, 68 naik, dan 41 tidak bergerak yang menandakan tingginya aksi jual di pasar saham domestik.Adapun nilai transaksi mencapai Rp 23,77 triliun yang melibatkan 46,64 miliar saham dalam 1,62,471 juta kali transaksi. Seluruh sektor perdagangan melemah, dengan koreksi paling dalam dicatatkan oleh sektor infrastruktur dan industri. Saham blue chip kapitalisasi raksasa tercatat menjadi pemberat utama kinerja utama IHSG hari ini. Saham BBRI, BYAN, BREN, AMMN dan BMRI menjadi beban utama kinerja IHSG hari ini.

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.