Today’s Outlook :
• PASAR AS : Saham AS ditutup melemah pada Jumat akibat kombinasi data pasar tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan serta lonjakan tajam harga minyak yang menekan sentimen investor. S&P 500 turun 1,4% ke 6.738,15, NASDAQ Composite melemah 1,6% ke 22.387,68, dan Dow Jones Industrial Average turun 1% ke 47.501,55. Sepanjang pekan, kinerja bursa juga negatif sejak konflik Iran pecah, dengan S&P 500 turun 2% (terburuk sejak Oktober tahun lalu), Nasdaq turun 1,2%, dan Dow Jones merosot 3,1%.
Tekanan pasar terutama dipicu eskalasi konflik Timur Tengah setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari kawasan produsen utama. Lonjakan harga energi memperbesar risiko inflasi, dengan harga bensin di AS naik sekitar 27 sen menjadi US$3,25 per galon. Kondisi ini berpotensi menekan margin perusahaan, mengurangi daya beli konsumen, serta mempersulit upaya Federal Reserve mengendalikan inflasi.
Dari sisi ekonomi, laporan nonfarm payrolls Februari menunjukkan kejutan negatif dengan kehilangan sekitar 92 ribu pekerjaan, berlawanan dengan ekspektasi penambahan 58 ribu. Tingkat pengangguran naik menjadi 4,4%. Data sebelumnya juga direvisi turun, dengan pertumbuhan pekerjaan Januari menjadi 126 ribu dan Desember 2025 direvisi dari kenaikan 48 ribu menjadi penurunan 17 ribu, menambah ketidakpastian bagi kebijakan suku bunga Federal Reserve.
• PASAR EROPA : Saham Eropa memperpanjang penurunan pada Jumat setelah sempat menguat di awal sesi, karena sentimen pasar tetap rapuh akibat data ketenagakerjaan AS yang lemah serta konflik Timur Tengah yang terus memanas. DAX Jerman turun 1,1%, CAC 40 Prancis melemah 0,7%, FTSE 100 Inggris turun 1,2%, sementara indeks Stoxx 600 turun 1,1%. Secara mingguan, indeks utama Eropa menuju penurunan terbesar sejak April tahun lalu. lainnya Francois Villeroy de Galhau menyatakan belum ada alasan untuk menaikkan suku bunga saat ini.
• PASAR ASIA : Saham Asia bergerak mixed pada Jumat namun tetap berada di jalur penurunan tajam secara mingguan, tertekan oleh eskalasi konflik di Timur Tengah serta lonjakan harga minyak yang melemahkan sentimen investor. Futures saham AS juga bergerak relatif datar selama sesi Asia setelah indeks Wall Street kembali melemah pada perdagangan sebelumnya.
Lonjakan harga minyak memberikan tekanan besar pada pasar saham dan mata uang di Asia, terutama bagi negara pengimpor energi seperti Korea Selatan. KOSPI Korea Selatan turun 1% dan berada di jalur penurunan mingguan hampir 12%. Nikkei 225 Jepang naik tipis 0,6%, namun masih menuju penurunan sekitar 6% dalam sepekan.
Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 diperkirakan turun lebih dari 1% sepanjang minggu ini. Hang Seng Hong Kong sempat naik sekitar 2% pada Jumat, tetapi masih mencatat potensi penurunan mingguan sekitar 3%.
• KOMODITAS: Harga minyak Brent ditutup di US$92,69 per barel, naik US$7,28 atau 8,52%. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup di US$90,90 per barel, melonjak US$9,89 atau 12,21%.
Dalam sepekan, harga WTI melonjak 35,63% dan Brent naik sekitar 27%, mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak pandemi COVID-19 pada musim semi 2020. Lonjakan ini terjadi setelah harga minyak berjangka AS naik sekitar 12% pada Jumat (6 Maret 2026), didorong kekhawatiran gangguan pasokan energi global akibat eskalasi konflik antara AS–Israel dan Iran. Ketegangan tersebut meningkatkan risiko terhadap jalur distribusi minyak utama dunia dan memicu reli tajam di pasar energi.
• INDONESIA : IHSG penutupan Jumat sore (6/3), terpantau merosot 1,62% ke level 7.585,687. Pergerakan ini disebabkan oleh kekhawatiran dampak perang US-Iran yang masih berlangsung. Tetap berpegang pada saham sektor komoditas yang akan menjadi tema trading sepanjang tahun ini seiring dengan kenaikan komoditas minyak, emas, nikel. Tetap berjaga-jaga selalu dengan stoploss dan trailing stop terdekat di tengah volatilitas ini.
Download Full Report HERE.

