Today’s Outlook:
US MARKET:Indeks S&P 500 turun 0,3% ke 6.559,62, Dow Jones melemah 0,2% ke 46.123,72, dan NASDAQ terkoreksi 0,8% ke 21.761,89. Wall Street ditutup di zona merah dalam sesi yang cukup bergejolak, dipicu oleh laporan media yang saling bertentangan terkait perkembangan potensi perundingan damai antara AS dan Iran. Selain itu, pelemahan saham sektor layanan komunikasi serta tekanan pada perusahaan kredit swasta turut membebani sentimen pasar.
Presiden Donald Trump kembali menegaskan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dan menyebut Iran telah sepakat untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Ia mengatakan negosiasi dilakukan dengan pihak yang “tepat” dan menunjukkan sinyal positif. Trump juga mengklaim Iran memberikan “hadiah besar” terkait minyak dan gas kepada AS, namun klaim ini langsung dibantah oleh Ketua Parlemen Iran yang menilai pernyataan tersebut hanya untuk meredakan volatilitas pasar.
COMMODITIES :Harga minyak mentah AS turun sekitar 4% pada awal perdagangan Rabu, didorong harapan gencatan senjata yang dapat meredakan gangguan pasokan global. Penurunan ini mengikuti laporan bahwa AS telah mengirim proposal 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. WTI sempat jatuh ke USD 87,80 per barel dan berada di USD 88,86 (-3,8%) pada 23:05 GMT, setelah sebelumnya naik 4,8% pada Selasa sebelum terkoreksi dalam perdagangan volatil. Presiden Donald Trump menyebut negosiasi dengan Iran menunjukkan kemajuan, termasuk adanya konsesi dari Teheran. Laporan media juga menyebut potensi gencatan senjata satu bulan, namun Iran membantah adanya pembicaraan langsung dan menyebut laporan tersebut sebagai “berita palsu.”
FIXED INCOME NEWS
Purbaya Tambah Rp 100T ke Bank, Tahan Lonjakan Yield Obligasi
Kementerian Keuangan menambah penempatan dana sebesar Rp100 triliun ke perbankan, termasuk himpunan bank milik negara (Himbara) dan Bank Jakarta, untuk menjaga likuiditas di tengah kenaikan yield obligasi pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan langkah tersebut diambil setelah pemerintah mendeteksi pengetatan likuiditas perbankan yang tercermin dari kenaikan yield surat utang negara. Sebelumnya, pemerintah telah menempatkan dana Rp200 triliun di perbankan. Dengan tambahan terbaru, total penempatan dana mencapai sekitar Rp300 triliun. Purbaya menjelaskan, kebijakan ini bertujuan menahan laju kenaikan yield obligasi. Dengan tambahan likuiditas, perbankan memiliki ruang untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) atau menempatkan dana di Bank Indonesia, sehingga tekanan terhadap suku bunga dapat dikendalikan. (wartaekonomi.co.id)
IPO Saham Masih Sepi, Emisi Obligasi dan Sukuk Justru Semarak
Di tengah kosongnya pencatatan saham baru melalui IPO, Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mencatat penerbitan obligasi dan sukuk. Terbaru, ada Obligasi Berkelanjutan II Tahap IV Tahun 2026 yang diterbitkan oleh PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk. Menurut keterangan BEI, Rabu (25/3/3026), Obligasi Berkelanjutan II Trimegah Sekuritas Indonesia Tahap IV Tahun 2026 itu bernilai Rp250 miliar. Rinciannya, Obligasi Berkelanjutan II Trimegah Sekuritas Indonesia Tahap IV Tahun 2026 Seri A punya nilai nominal sebesar Rp184 miliar dengan tingkat bunga 7,75% per tahun, jangka waktu 5 tahun sejak tanggal emisi. Kemudian, Obligasi Berkelanjutan II Trimegah Sekuritas Indonesia Tahap IV Tahun 2026 Seri B dengan nilai nominal sebesar Rp66 miliar dengan tingkat bunga 8,50% per tahun, jangka waktu 7 tahun sejak tanggal emisi. Hasil pemeringkatan dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) untuk Obligasi Berkelanjutan II Trimegah Sekuritas Indonesia Tahap IV Tahun 2026 adalah idA (Single A) dengan Wali Amanat PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. Adapun dengan pencatatan itu, total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat sepanjang tahun 2025 adalah 40 emisi dari 29 emiten senilai Rp41,63 triliun. (pasardana.id)
Inflasi Akibat Harga Minyak Ancam Pasar Surat Utang Indonesia
Pasar surat utang Republik Indonesia (RI) menghadapi tekanan akibat konflik Iran yang mendorong kenaikan harga minyak. Situasi ini memicu risiko inflasi, mempercepat arus modal keluar, dan meningkatkan kekhawatiran terkait kredibilitas utang negara. Kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi dan memperumit prospek kebijakan, sehingga biaya pinjaman mata uang lokal bagi penerbit dengan peringkat tertinggi naik hampir 70 basis poin (bps) bulan ini, mencapai level tertinggi dalam hampir setahun. Menurut Albert Budiman, kepala investasi di UOB Asset Management Indonesia di Jakarta, imbal hasil akan tetap tinggi selama harga minyak di atas US$80 per barel. Pasar terus memperhitungkan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi. Budiman juga menambahkan bahwa penerbitan obligasi korporasi dapat melambat dalam beberapa bulan mendatang jika ketidakpastian harga minyak berlanjut. Aktivitas penerbitan obligasi korporasi telah turun 52% hingga 20 Maret dibandingkan periode yang sama di bulan Februari, meskipun volume masih naik 33% year-to-date dibandingkan tahun sebelumnya. Biaya kredit yang lebih tinggi mulai membebani aktivitas primer setelah awal tahun yang kuat. (asatunews.co.id)
Unduh laporan lengkapnya DISINI.

