Today’s Outlook:
US MARKET: Bursa saham AS ditutup melemah pada Jumat dan mencatat penurunan mingguan di tengah volatilitas harga minyak akibat perang Iran yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Russell 2000 bahkan mencatat penutupan terendah tahun ini.
Pernyataan Trump yang berjanji akan menyerang Iran lebih keras serta laporan konflik yang meluas ke Lebanon, Kuwait, Irak, UEA, Bahrain, dan Oman meredupkan harapan de-eskalasi. Iran juga memperketat blokade Selat Hormuz, jalur yang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia. IEA memperingatkan perang ini dapat memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.
Sementara itu, revisi turun PDB kuartal IV AS dan sejumlah data ekonomi yang lemah menambah tekanan pasar. Meski demikian, pasar masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan minggu depan, dengan peluang pemangkasan suku bunga semakin kecil.
KOMODITAS :Harga minyak melonjak tajam dalam perdagangan Asia pada Senin seiring perang AS–Israel dengan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda, terutama setelah serangan terhadap Pulau Kharg, pusat sekitar 90% ekspor minyak Iran.
Brent sempat naik hingga 3% ke USD 106,50 per barel, sebelum memangkas kenaikan menjadi sekitar USD 104,77 per barel. AS menyerang Pulau Kharg pada akhir pekan, dengan Presiden Donald Trump menyebut serangan hanya menargetkan aset militer namun juga mengancam akan menyerang infrastruktur minyak Iran.
Trump juga meminta beberapa negara, termasuk China, untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz. Ia bahkan mengancam menunda pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping serta memperingatkan masa depan buruk bagi NATO jika aliansi tersebut tidak membantu mengatasi konflik Iran
FIXED INCOME NEWS
Kalender Ekonomi: Pekan Bank Sentral Dunia Umumkan Suku Bunga
Pekan ini sangat pendek bagi Indonesia karena ada libur Hari Raya Nyepi dan Lebaran, tetapi agenda perekonomian dunia tetap sibuk. Pekan ini pasar akan mencermati sejumlah rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed serta sentimen pasar global. Lonjakan harga energi yang dipicu perang AS-Israel terhadap Iran juga membuat sejumlah negara menghadapi dilema terkait kebijakan suku bunga. Bank sentral Australia diperkirakan akan menaikkan suku bunga untuk kali kedua secara beruntun. Pejabat Australia berencana kembali melakukan pengetatan lantaran ada ancaman inflasi dari kenaikan harga energi. Di sisi lain, kondisi domestik Australia masih mengalami pasar tenaga kerja yang ketat, sehingga ruang untuk wait and see perkembangan geopolitik saat ini jadi sangat terbatas. Sama halnya dengan bank sentral Jepang. Kenaikan harga akibat konflik yang masih terjadi, bisa mempercepat langkah Bank of Japan melakukan pengetatan. Ekonom Bloomberg memproyeksikan Jepan akan menaikkan tingkat suku bunga pada April mendatang. Sebaliknya, bank sentral China justru berpeluang untuk melakukan pemangkasan suku bunga dalam beberapa pekan mendatang. Hal ini karena data aktivitas perekonomian China belum terlalu solid dan cenderung bergerak lambat pada dua bulan pertama di tahun ini, meski penjualan ritel dan produksi industri relatif meningkat. Sementara itu, Bank Indonesia diproyeksikan tetap mempertahankan suku bunga acuan di 4,75%, dengan kondisi kenaikan harga minyak saat ini yang menambah ketidakpastian terhadap prospek ekonomi. (bloombergtechnoz.com)
Sukses Terbitkan Patriot Bond, Kini Danantara Emisi Utang Tenor Menengah Rp7 Triliun
PT Danantara Investment Management (Persero) berencana menerbitkan instrumen surat utang jangka menengah atau Medium Term Notes (MTN) dengan total nilai nominal mencapai Rp7 triliun. Surat utang ini akan diterbitkan dalam dua seri. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang dikutip Minggu (15/3/2026), emisi MTN jumbo tersebut terbagi ke dalam dua seri, yakni Seri A dan Seri B yang masing-masing memiliki nilai nominal sebesar Rp3,5 triliun. Manajemen KSEI dalam pengumumannya telah menerbitkan kode ISIN (International Securities Identification Number) untuk kedua instrumen tersebut. Efek ini akan didistribusikan secara elektronik pada 17 Maret 2026. Secara rinci, MTN Seri A dengan kode Efek DNTR02A1JP memiliki nilai nominal Rp3,5 triliun dengan tanggal jatuh tempo pada 18 Maret 2031 atau bertenor 5 tahun. Jenis bunga yang ditetapkan adalah fixed dengan frekuensi pembayaran tahunan Pembayaran bunga pertama dijadwalkan pada 17 Maret 2027. (bisnis.com)
Adu Rayu Obligasi Ritel SMI vs Sukuk Ritel SR024 Tarik Minat Investor
Sukuk Ritel perdana 2026, SR024 kehadiran penantang baru. PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) turut menerbitkan surat utang ritel bertajuk obligasi Ritel Infrastruktur SMI (ORIS) yang ditawarkan pada periode yang sama. Jika daya tarik produk surat utang hanya dilihat berdasarkan besaran imbal hasil, ORIS tentu keluar sebagai pemenangnya. Produk ini diterbitkan dalam tenor 1 dan 3 tahun, dengan imbal hasil masing-masing 5,60% dan 6,05%. Sementara SR024 ditawarkan dengan imbal hasil sebesar 5,55% dan 5,90% untuk tenor masing-masing 3 dan 5 tahun. Meskipun begitu, Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto menilai kendati imbal hasil yang ditawarkan ORIS cenderung lebih tinggi, tetapi belum tentu mampu menyaingi daya tarik SR024 sebagai instrumen surat utang ritel yang dijamin negara. Salah satu pertimbangannya, SR024 mampu menjangkau lebih banyak investor lantaran banyaknya mitra distribusi produk ini. Sedikitnya, terdapat 32 perusahaan yang bergabung sebagai mitra distribusi produk ini, mulai dari perbankan, perusahaan efek, hingga perusahaan efek khusus. (bisnis.com)
Unduh laporan lengkapnya DISINI.

