Today’s Outlook :
• PASAR AS : Wall Street ditutup mayoritas melemah pada Senin, setelah upaya rebound di awal sesi gagal berlanjut. Tekanan jual tajam di pasar obligasi mulai mereda setelah komentar positif dari Ketua The Fed, Jerome Powell. Konflik Timur Tengah tetap menjadi sorotan, dengan sinyal campuran terkait negosiasi damai AS–Iran.
Pekan lalu, indeks utama Wall Street melemah meski Presiden Donald Trump menunda hingga 6 April tenggat bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Iran justru melaporkan serangan terhadap fasilitas industri dan nuklir sipil, bertentangan dengan penundaan tersebut.
Powell menjadi perhatian setelah diskusi di Harvard. Ia menegaskan kebijakan moneter saat ini cukup fleksibel untuk “wait and see” dampak lonjakan harga minyak terhadap inflasi dan ekonomi AS. Ia juga menyebut ekspektasi inflasi tetap terkendali dalam jangka menengah, sehingga bank sentral dapat mengabaikan guncangan pasokan energi sementara
• PASAR EROPA :Saham Eropa menguat pada Senin, sementara harga minyak kembali naik seiring perang gabungan AS–Israel terhadap Iran memasuki bulan kedua.
• PASAR ASIA : Saham Asia melemah pada Senin, dipicu kekhawatiran eskalasi perang AS–Israel melawan Iran. Bursa Jepang memimpin penurunan setelah sinyal kenaikan suku bunga dari Bank of Japan. Indeks Nikkei 225 dan TOPIX Jepang menjadi yang terburuk di Asia, masing-masing turun lebih dari 3%. Tekanan muncul setelah Gubernur BOJ Kazuo Ueda menyatakan bank sentral mencermati pelemahan yen, yang meningkatkan biaya impor dan berpotensi mendorong kenaikan suku bunga. Ia menegaskan kebijakan akan diarahkan secara tepat dengan mempertimbangkan pergerakan mata uang dan dampaknya ke ekonomi. Meski tidak memberi sinyal langsung, pernyataan ini melanjutkan indikasi sebelumnya bahwa suku bunga bisa naik seiring inflasi dan pertumbuhan.
• KOMODITAS : Harga minyak pada Senin cenderung naik dalam perdagangan yang fluktuatif, seiring eskalasi konflik Timur Tengah yang bertentangan dengan klaim AS soal negosiasi damai dengan Iran. Kelompok Houthi dari Yaman ikut terlibat dengan menyerang Israel, memperluas potensi konflik yang kini memasuki bulan kedua. Presiden Donald Trump mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran, termasuk Pulau Kharg, jika tidak tercapai kesepakatan.
Per pukul 15:52 ET (19:52 GMT), minyak Brent kontrak Juni naik 2,8% ke USD 108,24 per barel, sementara kontrak Mei naik 1,1% ke USD 113,83 per barel. Minyak WTI naik 4,6% ke USD 104,22 per barel.
Minyak kedelai (soy oil) di Chicago sempat naik hingga 3,4%, terdorong kenaikan harga minyak mentah yang mengangkat sektor biofuel. Harga soyoil—yang digunakan untuk renewable diesel dan produk makanan seperti salad dressing—mendekati level tertinggi baru dalam tiga tahun, seiring ancaman AS terhadap aset energi Iran dan kenaikan harga minyak.
FIXED INCOME NEWS
Menakar Peluang Masuknya Dana Asing saat Yield SBN Melonjak
Ketegangan geopolitik yang memuncak antara Iran—AS kian mendorong susutnya minat investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Meskipun begitu, kalangan analis memprediksi bahwa Indonesia sebagai emerging market masih memiliki daya tarik di mata investor global. Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, menerangkan bahwa sepanjang tahun berjalan 2026, net sell asing di pasar SBN telah tercatat sebesar Rp31,04 triliun. Sejalan dengan itu, yield SBN juga melemah hingga ke level 6,89% per hari ini, Senin (30/3/2026). Kepala Unit Riset dan Market Informasi PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Salvian Fernando menilai kendati pasar SBN RI mengalami outflow asing, tetapi minat investor asing terhadap SBN RI masih terbuka lantaran daya tarik yield obligasi dibandingkan negara emerging market lainnya. Data World Government Bonds, menunjukkan kendati yield Indonesia sebagai pasar SBN tengah melemah, tetapi masih kompetitif dibandingkan negara-negara lainnya. India misalnya, kini memiliki yield sebesar 6,96%, Filipina sebesar 6,92%, atau Romania sebesar 7,25%. (bisnis.com)
Perang Picu Kekhawatiran Stagflasi, Harga Obligasi Global Turun Tajam
Harga obligasi pemerintah global merosot menuju kerugian bulanan terbesar dalam lebih dari setahun karena investor mempertimbangkan risiko dari perang berkepanjangan di Timur Tengah terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Namun, beberapa perbaikan harga untuk obligasi jangka pendek pada Senin (30/3/2026), menunjukkan bahwa pasar mengalihkan fokus ke dampak ekonomi dari konflik yang menunjukkan sedikit tanda-tanda de-eskalasi saat memasuki bulan kedua. Imbal hasil US Treasury dua tahun – yang bergerak berlawanan arah dengan harganya – diperkirakan akan naik sekitar 50 basis poin (bps) per bulan, kenaikan terbesar sejak Oktober 2024, meskipun turun sekitar 4 basis poin di Asia menjadi 3,8770%. (kontan.co.id)
Kemenkeu utang lagi, meski yield meroket hingga 7,125%
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) kembali menggelar lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa, 31 Maret 2026, dengan menawarkan sembilan seri obligasi berkupon hingga 7,125% dan nilai nominal Rp1 juta per unit. Dalam lelang tersebut, pemerintah menargetkan dana sebesar Rp36 triliun. Pada lelang sebelumnya, 3 Maret 2026, total penawaran yang masuk mencapai Rp50,94 triliun dari target awal Rp33 triliun, dengan nilai yang dimenangkan sebesar Rp34,1 triliun. Lelang SUN berdenominasi rupiah ini merupakan bagian dari strategi pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Pemerintah juga memiliki kewenangan untuk menjual jumlah obligasi lebih besar atau lebih kecil dari target indikatif yang telah ditetapkan, sebagaimana dikutip dari laman Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, Minggu, 29 Maret 2026. Adapun sembilan seri SUN yang ditawarkan meliputi SPN01260502 (New Issuance), SPN12260702 (Reopening), SPN12270401 (New Issuance), FR0109 (Reopening), FR0108 (Reopening), FR0106 (Reopening), FR0107 (Reopening), FR0102 (Reopening), dan FR0105 (Reopening). Pemerintah berpeluang memenangkan hingga maksimal 150% dari target indikatif Rp36 triliun. (idnfinancials.com)
Unduh laporan lengkapnya DISINI.

